Breaking

Showing posts with label Antariksa. Show all posts
Showing posts with label Antariksa. Show all posts

Sunday, July 31, 2022

Sunday, July 31, 2022

Tentang Puing Antariksa China Terlihat di Langit Lampung dan Videonya Viral


Negaratoto - Benda menyala yang melayang di langit Lampung ternyata merupakan pecahan puing antariksa CZ5B milik China. CZ5B merupakan salah satu puing antariksa terbesar.

Dikutip dari The EU Space Surveillance and Tracking (EU SST), objek CZ5B memiliki massa dari 17 hingga 23 ton dan ukuran sekitar 30 m, yang menjadikannya salah satu puing terbesar.

EU SST telah memantau masuknya kembali objek ruang angkasa besar CZ5B ini. Tahap inti roket yang meluncurkan Wentian--modul kedua dari stasiun ruang angkasa modular besar China--pada 24 Juli 2022. Jaringan sensor SST UE mengamati objek dengan cermat, dan radarnya telah mempersempit jendela masuk kembali hingga 30 Juli.

Sensor kontribusi SST UE mengkonfirmasi bahwa objek itu jatuh. Benda itu jatuh dengan kecepatan jatuh 3,3 detik per putaran, yang menunjukkan rotasi yang cukup cepat. Karena kemiringannya (41,47 derajat).

Penjelasan BRIN
Sebelumnya, dalam sebuah video TikTok yang diunggah dalam sebuah akun, tampak sebuah benda langit berwarna merah menyala melayang di atas langit. Lokasi kejadian tersebut disebut berada di Lampung.

Selain itu, ada beberapa warganet yang mengaitkan fenomena ini dengan malam 1 Suro atau tahun baru hijriah Islam. Ada pula yang menduga benda tersebut sebagai meteor.


Ahli astronomi dan astrofisika dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa benda langit itu tampak pada tengah malam tadi. Benda tersebut merupakan pecahan sampah antariksa milik China.

"Kalau itu tengah malam tadi, itu adalah pecahan sampah antariksa CZ5B milik RRT (Republik Rakyat Tiongkok)," ujar Thomas, Minggu (31/7/2022).

Sampah antariksa itu berbobot 20 ton dengan ukuran 30 meter. Penampakan ini terkonfirmasi pada 30 Juli 2022.

"Alhamdulillah, sampah antariksa besar, bekas roket peluncuran RRT CZ5B berbobot sekitar 20 ton berukuran 30 meter telah terkonfirmasi jatuh di Samudra Hindia tadi malam, 30 Juli 2022, pukul 23.45 WIB," ungkapnya.

Dia juga mengatakan ada kemungkinan pecahannya juga bisa tersebar di Sumatera hingga Kalimantan Barat. Dia meminta warga melapor jika melihat objek tersebut.

"Data orbit dari pemantauan space-track.org menunjukkan titik jatuh di barat daya Indonesia. Namun bisa jadi ada pecahannya yang mungkin tersebar sepanjang lintasan terakhir orbitnya yang melintasi Sumatera bagian selatan dan Kalimantan Barat. Bila ada yang melihat objek langit yang jatuh sekitar pukul 23.45 WIB segera melaporkan ke Pusat Riset Antariksa BRIN," ungkapnya.

"Ada laporan pecahannya terekam oleh kamera pemantau meteor Itera di Lampung dan juga terlihat antara Kalimantan dan Filipina," lanjutnya.

Monday, July 25, 2022

Monday, July 25, 2022

Astronom Temukan Dunia dengan 3 Matahari, Dulunya Malah 4


Negaratoto - Tata Surya yang kita tinggali, unik dari sudut pandang kita karena kehidupan ada di satu bagian kecil alam semesta ini di galaksi Bima Sakti. Keberadaan kehidupan ini didukung oleh Matahari di mana semua planet berputar.

Bayangkan ada sebuah sistem Tata Surya dengan empat Matahari. Sistem ini saling terjepit erat, dan para astronom berspekulasi ada empat bintang dalam sistem ini sampai tiga Matahari lainnya melahap yang keempat.

Para astronom untuk pertama kalinya menemukan sistem unik yang memiliki dua bintang biner yang mengorbit satu sama lain dan bintang yang lebih besar mengorbit keduanya. Dunia ini mereka namakan HD 98800 yang terletak 150 tahun cahaya di konstelasi TW Hydrae.

Bintang-bintang biner mengorbit satu sama lain dalam satu hari, mirip dengan Bumi yang menyelesaikan satu rotasi dalam 24 jam. Kedua Matahari, jika digabungkan, memiliki berat 12 kali massa Matahari kita.

"Sejauh yang kami tahu, ini adalah yang pertama dari jenisnya yang pernah terdeteksi. Kita tahu banyak tentang sistem bintang tersier (sistem bintang tiga), tetapi mereka biasanya secara signifikan kurang masif. Bintang-bintang masif dalam sistem rangkap tiga ini sangat berdekatan satu sama lain, ini adalah sistem yang kompak," kata Alejandro Vigna-Gomez dari Institut Niels Bohr di University of Kopenhagen, dikutip dari India Today.


Alejandro berkolaborasi dengan rekan penelitinya Bin Liu dari China untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana kombinasi unik dari kumpulan bintang biner dan bintang besar yang berputar ini terbentuk.

Para peneliti bingung dengan keberadaan bintang ketiga dalam sistem ini, yang beratnya 16 kali massa Matahari kita dengan orbit lingkaran dalam yang mengelilingi dua bintang enam kali setiap tahun.

Sistem ini, karena kecerahannya yang tinggi, pertama kali ditemukan oleh komunitas astronom amatir, yang mengambil data dari observatorium Transiting Exoplanet Survey Satellite milik NASA. Awalnya, mereka menganggapnya sebagai anomali dan memberi tahu astronom profesional yang kemudian mengonfirmasinya sebagai sistem bintang tiga yang unik.

Kedua peneliti kemudian mengkodekan data dan menjalankan 1.00.000 iterasi pada superkomputer untuk menilai hasil yang paling mungkin dari skenario ini.

"Sekarang kami memiliki model skenario yang paling mungkin pada sistem unik ini. Tapi model saja tidak cukup. Dan ada dua cara kita dapat membuktikan atau menguraikan teori kita tentang formasi ini. Salah satunya mempelajari sistem secara rinci dan yang lainnya membuat analisis statistik populasi bintang," kata Alejandro.

"Jika kita masuk ke sistem secara rinci, kita harus mengandalkan keahlian seorang astronom. Kami sudah melakukan observasi awal, tapi kami masih harus melihat data dan memastikan kami menafsirkannya dengan baik," jelas Alejandro.

Kedua peneliti saat ini memanfaatkan teleskop dan observatorium yang tersebar di seluruh dunia untuk melihat sistem yang unik ini.

Thursday, July 21, 2022

Thursday, July 21, 2022

Sejarah Manusia Pertama Kali Injakkan Kaki di Bulan


Negaratoto - Juli 1969 menorehkan sejarah dalam peradaban umat manusia. Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu, John F. Kennedy mengirimkan manusia pertama untuk mendarat di Bulan.

Bahkan, ambisi ini dijadikan salah satu tujuan nasional AS. Karenanya, bisa dikatakan lompatan penting dalam sejarah dan ilmu pengetahuan ini tak akan terjadi tanpa peran Kennedy.

Seperti dikutip dari situs resmi NASA, sejarah ini diawali dengan peluncuran pesawat luar angkasa Apollo 11, yang ditumpangi Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins.

Mereka lepas landas dari Kennedy Space Center, dengan Armstrong menjadi komandan yang memimpin misi pendaratan. Setelah menempuh jarak 240 ribu mil selama 76 jam, Apollo 11 memasuki orbit Bulan pada 19 Juli 1969.

Keesokan harinya pada pukul 13.46, yakni 20 Juli 1969, modul Bulan Eagle, yang diwakili Armstrong dan Aldrin, terpisah dari modul perintah, tempat Collins tinggal.

Ketika tiba saatnya untuk menurunkan Eagle di Sea of Tranquility atau Laut Ketenangan, Armstrong berimprovisasi, mengemudikan kapal secara manual melewati area yang dipenuhi dengan batu-batu besar. Selama detik-detik terakhir penurunan, Eagle membunyikan alarm.


Dua jam kemudian, Eagle mulai turun ke permukaan Bulan. Pada pukul 16.17, pesawat mendarat di tepi barat daya Sea of Tranquility. Armstrong segera mengirim pesan singkat radio ke Mission Control di Houston, Texas berbunyi: "Elang telah mendarat."

Pesan singkat itu pun mengubah dunia. Semua orang di Mission Control bersorak sorai dan mengharu biru secara bersamaan.

Pukul 22.39, Armstrong membuka palka modul Bulan. Saat dia menuruni tangga modul, kamera TV yang terpasang pada pesawat merekamnya. Ratusan juta orang menyaksikan sosok manusia pertama menginjakkan kaki di Bulan. Lalu pukul 22.56, Armstrong turun dari tangga, dan menginjakkan kaki di permukaan Bulan.

"Ini memang satu langkah kecil bagi seseorang, tapi merupakan satu lompatan besar bagi umat manusia," ujar Armstrong melalui microphone saat itu.

Aldrin kemudian bergabung dengannya di permukaan Bulan sekitar 19 menit kemudian. Mereka memasang bendera AS, dan meninggalkan sebuah penanda untuk menghormati kru Apollo 1 yang jatuh.

Tak ketinggalan, sebuah plakat juga ditinggalkan di salah satu kaki Elang. Bunyinya: "Di sini orang-orang dari planet Bumi pertama kali menginjakkan kaki di Bulan. Juli 1969, kami datang dengan damai untuk seluruh umat manusia."

Wednesday, July 20, 2022

Wednesday, July 20, 2022

China Mau Kirim Penabrak Asteroid Ala Film Armageddon


Negaratoto - Badan luar angkasa nasional China, CNSA,berencana membidik asteroid 2020 PN1 yang berpotensi mengancam Bumi. Dalam misi yang akan diluncurkan pada 2026, China tampaknya menargetkan tahun 2025 untuk menjajal penangkal asteroid tersebut seperti film Armageddon.

Hal ini disampaikan Long Lehao, kepala desainer seri roket Long March China. Laporan yang disampaikan Long menunjukkan bahwa misi penabrak akan diluncurkan pada 2026 dengan roket Long March 3B.

"Misi ini akan mencakup penabrak dan pengorbit terpisah. Yang pertama akan berdampak pada objek dekat Bumi 2020 PN1 dengan pesawat ruang angkasa yang terakhir melakukan pengamatan," ujarnya seperti dikutip dari Space.com, Selasa (19/7/2022).

Misi pertahanan asteroid kinetik tampaknya mirip dengan 'misi Armageddon' dari Amerika yaitu Uji Pengalihan Asteroid Ganda atau Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA yang akan tiba di tujuannya sekitar bulan September tahun ini.

NASA berencana mengirim penabrak kinetik ke Bulan Dimorphos dengan kecepatan 6,6 km/s untuk mencoba mengubah orbitnya di sekitar asteroid Didymos.


Tak perlu khawatir, sejauh ini tak ada bahaya mengancam berdasarkan pengamatan yang cermat oleh NASA dan banyak entitas luar angkasa lainnya.

Istilah 'berpotensi berbahaya' juga sangat kompleks, karena menggambarkan serangkaian karakteristik batuan luar angkasa yang diprediksi memiliki kemungkinan dampak yang lebih tinggi pada Bumi.

Wakil direktur CNSA Wu Yanhua menyebutkan, China mengerjakan rencana pertahanan planet yang lebih luas yang melibatkan berbagai penelitian dan studi teknis. CNSA juga merilis 'buku putih' pada bulan Januari yang membahas rencana untuk membangun sistem pertahanan objek dekat Bumi.

China adalah negara yang sebagian besar bergerak independen di ranah luar angkasa dan beberapa kali mendapat kecaman dari AS belakangan ini. NASA mengkritik China karena membiarkan sampah roket seberat 23 ton dari booster Long March 5B yang diluncurkan 2021 jatuh tak terkendali.

NASA juga menyebutkan, pihaknya tidak diizinkan untuk terlibat dalam kegiatan bilateral apa pun dengan China atau perusahaan milik China. Tak sampai di situ, NASA mengecam China begitu ambisius ingin menguasai Bulan, meski tudingan ini langsung dibantah oleh China.

Thursday, July 7, 2022

Thursday, July 07, 2022

Amazing! Foto Bumi Sebatang Kara di Tengah Luas Alam Semesta


Negaratoto - 'Pale Blue Dot' adalah salah satu foto Bumi yang paling populer dan ikonik. Diambil pada tanggal 14 Februari 1990 oleh kamera Imaging Science Subsystem (ISS) yang terdapat di wahana antariksa Voyager, foto itu menampakkan Bumi sebagai titik kecil di tengah luasnya alam semesta.

Pada tahun 2020, memperingati 3 dekade dijepretnya foto itu, NASA merekanya ulang menggunakan software modern. Hasilnya, foto itu terlihat lebih jelas dengan Bumi tetap terlihat sangat mungil, sebatang kara di luasnya alam semesta. Ada garis-garisnya yang merupakan refleksi sinar Matahari.

Pale Blue Dot diambil dari jarak sekitar 6 miliar kilometer dari Bumi atas permintaan dari penulis Carl Sagan. Ini adalah foto terakhir yang diambil oleh Voyager sebelum sistem kameranya dimatikan untuk menghemat daya.


Voyager saat ini telah menjelajah seluruh planet di Tata Surya dan terus melintas dengan kecepatan mencapai 64 ribu kilometer per jam. "Lihat foto itu sekali lagi. Itulah rumah. Itulah kita," begitu salah satu caption Pale Blue Dot.

Garry Hunt selaku salah seorang tim Voyager menyebut foto tersebut pada saat ini menjadi lebih relevan artinya dibanding masa-masa sebelumnya. Bahwa Bumi yang kecil itu harus dijaga dari berbagai ancaman, terutama dari perubahan iklim yang mengintai.

"Setiap kali saya bicara soal perubahan iklim dan apa yang dilakukan untuk membuat perubahan, saya menunjukkan gambar ini karena memperlihatkan Bumi adalah sebuah bintik yang terisolasi," kata dia.

"Dot kecil biru ini, pale blue dot, adalah satu-satunya tempat di mana kita dimungkinkan untuk tinggal dan kita telah membuat kekacauan padanya," pungkas Garry.

Tuesday, July 5, 2022

Tuesday, July 05, 2022

Panas! NASA Tuding China Mau Kuasai Bulan Sendirian


Negaratoto  - Badan Antariksa Amerika Serikat (AS) atau NASA menuding China ingin menguasai Bulan sendirian. Tuduhan itu diungkapkan oleh Administrator Bill Nelson dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Jerman Bild.

"Kita harus sangat prihatin China mendarat di Bulan dan mengatakan: ini milik kami sekarang dan Anda tetap di luar," ujar Nelson dikutip dari Reuters, Selasa (5/7/2022).

Tak sampai di sana, Nelson menyatakan program luar angkasa China merupakan program militer. Bahkan dia menuding China mencuri ide dan teknologi dari orang lain.

China Membantah

Pihak China sendiri membantah tudingan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Zhao Lijian menyebut bukan kali pertama NASA menuduh sesuatu yang tidak bertanggung jawab terkait China.


"Ini bukan pertama kalinya kepala NASA mengabaikan fakta dan berbicara tidak bertanggung jawab mengenai China," ucap Lijian.

"Pihak AS terus menerus membangun kampanye kotor pada upaya luar angkasa China yang normal dan masuk akal dan China dengan tegas menetang pernyataan tidak bertanggung jawab seperti itu".

Baik AS dan China memang sama-sama mengembangkan program eksplorasi antariksa. Dengan salah satu fokus terpentingnya adalah bisa mendarat di Bulan.

NASA, dengan program Artemis berencana mengirim misi berawak untuk mengorbit Bulan pada 2024. Mereka akan melakukan pendaratan berawak di dekat kutub selatan Bulan tahun 2025 mendatang.

China juga memiliki ambisi yang serupa dan pada 2013 lalu telah melakukan pendaratan tanpa awak. Jelang akhir dekade ini bisa meluncurkan roket yang kuat untuk mengirimkan astronaut ke Bulan.

Saturday, July 2, 2022

Saturday, July 02, 2022

Fenomena Bulan Purnama Langka 9 Tahun Sekali, Terakhir Bisa Dilihat 14 Juli


Negaratoto - Fenomena bulan yang cukup langka sedang berlangsung sejak 14 Juni 2022 hingga 14 Juli 2022 mendatang. Pada waktu ini akan terjadi purnama istimewa, di mana Bulan Baru Mikro diapit oleh dua Supermoon.

Peneliti Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang, menjelaskan, purnama kali ini bertepatan dengan Bulan Purnama Super (Full Supermoon) atau yang secara teknis disebut Purnama Perige (Perigeal Full Moon).

Sementara itu, Bulan Baru Stroberi bertepatan dengan Bulan Baru Mikro (New Micromoon) atau Bulan Baru Apoge (Apogeal New Moon).

"Bulan Baru Mikro kali ini diapit oleh dua Bulan Purnama Super yang terjadi pada dua bulan berturut-turut. Fenomena ini terakhir kali terjadi pada tahun 2004 dan 2013," terang Andi, seperti dilansir dari laman BRIN, Sabtu (2/7/2022).

Bulan purnama yang terjadi pada bulan Juni disebut dengan Purnama Stroberi Super (Full Strawberry Supermoon), sedangkan pada bulan Juli disebut Purnama Rusa Super (Full Buck Supermoon). Definisi ini juga dipakai untuk fase Bulan baru.

Menurut Andi, penamaan tersebut berasal dari The Farmer's Almanac (Almanak Petani Amerika). Pada bulan Juni dilakukan panen stroberi, sedangkan pada bulan Juli rusa jantan muda mulai tumbuh tanduknya.

"Jadi penamaan ini sebenarnya berasal dari penanda musim dan perilaku hewan yang timbul pada musim-musim tertentu bagi penduduk asli Amerika," terang Andi.


Andi merinci, Purnama Stroberi Super terjadi pada 14 Juni 2022, pada pukul 18.51 WIB/ 19.51 WITA/ 20.51 WIT, pada jarak 357.368 KM, sedangkan Bulan Baru Stroberi Mikro terjadi pada 29 Juni 2022, pukul 09.52 WIB/ 10.52 WITA/ 11.52 WIT, pada jarak 406.569 KM.

Lalu, untuk Purnama Rusa Super akan terjadi pada 14 Juli 2022, pukul 01.57 WIB/ 02.57 WITA/ 03.57 WIT, pada jarak 357.418 KM.

Andi menambahkan, untuk Bulan Baru Stroberi Mikro tidak dapat disaksikan sebelum Matahari terbit. Sebab, terbitnya yang lebih lambat dibandingkan Matahari dan permukaan Bulan yang menghadap Bumi tidak terkena cahaya Matahari sehingga tampak gelap.

"Untuk menyaksikan fenomena ini, masyarakat cukup arahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya bulan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Fenomena ini bisa diamati tanpa perlu bantuan alat optik apapun, kecuali jika ingin mengabadikannya dalam bentuk foto ataupun video," jelasnya.

Seperti pada fase bulan baru pada umumnya, kata Andi, baik Purnama Stroberi Super, Bulan Baru Stroberi Mikro, maupun Purnama Rusa Super dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya karena adanya konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau Matahari-Bulan-Bumi yang terletak di posisi segaris.

Pasang laut tertinggi akan terjadi pada 14 Juni dan 14 Juli, sehingga disarankan bagi nelayan untuk tidak melaut di dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 12 hingga 16 Juni, dan 12 hingga 16 Juli 2022.

Saturday, June 25, 2022

Saturday, June 25, 2022

3 Mitos Fenomena Planet Sejajar, Ramalan Bencana hingga Kiamat


Negaratoto - Fenomena planet sejajar 24 Juni yang cantik menarik perhatian para pencinta astronomi. Tapi ternyata, di zaman kelam, fenomena ini pernah dianggap pertanda buruk selama beberapa abad.

Ada yang menyebut fenomena ini sebagai prediksi bencana, bahkan pertanda kiamat sudah dekat. Berikut ini sejumlah mitos fenomena planet sejajar, dirangkum detikINET dari berbagai sumber, Jumat (24/6/2022).

1. Ramalan bencana
Sejak penemuannya, fenomena planet sejajar sering dikaitkan dengan peristiwa unik dan bencana lain yang terkait dengan kiamat atau akhir dunia.

Nostradamus, pengarang ramalan ternama asal Prancis, menyebutkan bahwa fenomena planet sejajar adalah pertanda akan terjadinya gempa Bumi dahsyat di California, sebuah kota yang berisiko terkena bencana alam karena keberadaan "Sesar San Andreas".

Ramalan itu menjelaskan bahwa gempa yang sangat dahsyat akan terjadi di bulan Mei. Pada saat itu hujan es akan turun lebih besar dari sebutir telur. Menurut ramalannya, tragedi ini akan terjadi pada 28 Mei 2015. Namun, tidak terjadi apa-apa di tanggal dan tahun tersebut.


2. Kiamat sudah dekat
Salah satu mitos paling terkenal tentang fenomena planet sejajar yang menggemparkan adalah di tahun 2012, ketika dunia memprediksi tanggal 21 Desember di tahun tersebut adalah hari kiamat.

Menurut kalender kuno suku Maya, tanggal tersebut akan menandai hari terakhir umat manusia. Dan di tahun itu, Mars terlihat terbit dari barat, tetapi Jupiter, Saturnus, Venus, Merkurius, Uranus, dan Neptunus di Timur, dan ini adalah keselarasan yang langka.

Kemudian, Masyarakat Astronomi Karibia (SAC) mengatakan bahwa ketakutan ini disebabkan oleh mitos kuno bahwa penyelarasan planet berikutnya akan terjadi pada tahun 2040.

3. Gelombang besar dan tsunami
Masyarakat kuno meyakini terjadinya planet sejajar ini akan menimbulkan dampak seperti gelombang besar, bahkan akan terjadi tsunami. Tentunya baru mendengar semua prediksi itu, sudah membuat merinding dan merasa takut.

Untuk diketahui, tarikan gravitasi dari semua planet memang dapat berdampak pada pasang surut di Bumi. Namun, fenomena planet sejajar tidak berbahaya. Jarak Venus dari Bumi berdampak pada gaya pasang surut terbesar, meskipun hanya sebagian kecil dibandingkan dengan Bulan. Pesawat ruang angkasa juga dapat merasakan kekuatan yang sangat kecil saat gravitasi dari planet menariknya.

Segala sesuatu yang terjadi pastinya atas kehendak Tuhan, untuk itu tidak perlu takut berlebihan saat mendengar fenomena planet sejajar dan dampaknya.

Secara ilmiah pun, menurut NASA, ini adalah peristiwa alam. Pada 2013, Badan antariksa Amerika Serikat itu pernah mengatakan tidak akan ada peristiwa planet sejajar dalam beberapa dekade mendatang. Kalaupun terjadi, dampak kesejajaran planet ini kepada Bumi tidak berbahaya.

"Fenomena besar planet sejajar terjadi di 1962 contohnya, dan dua lainnya terjadi pada 1982 dan 2000. Setiap Desember, Bumi dan Matahari sejajar dengan pusat Galaksi Bima Sakti, dan ini adalah peristiwa tahunan yang tidak membahayakan Bumi," ujarnya.

Friday, June 24, 2022

Friday, June 24, 2022

Fenomena Planet Sejajar 24 Juni 2022, Subuh Nih!


Negaratoto - Sejak awal Juni, masyarakat dapat menyaksikan fenomena langka, di mana planet Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus berada pada konfigurasi segaris alias planet sejajar. Nah, subuh 24 Juni nanti adalah waktu yang dianggap paling oke untuk menyaksikannya.

Peneliti Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang mengungkapkan konfigurasi atau parade langit ini sudah bisa dinikmati dini hari mulai tanggal 4 Juni 2022. Fenomena langka ini akan terus berlanjut sampai akhir Juni 2022 dalam beberapa kali konfigurasi.

Konfigurasi pertama terdiri dari sejajarnya Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada 4-15 Juni 2022.

Selanjutnya, diikuti dengan konfigurasi kedua dengan susunan planet Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, Saturnus, dan Bulan pada 16-27 Juni 2022.

Lalu, diakhiri dengan konfigurasi dengan susunan yang sama dengan pertama, yakni Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada 28-30 Juni 2022.

Nah, formasi sejajar dari kelima planet dan Bulan itu akan tampak paling sempurna pada 23-24 Juni. Jadi bisa disaksikan pada besok subuh ini.


Andi menjelaskan, fenomena konfigurasi planet sejajar ini dapat disaksikan selama kurang lebih 50 menit sesuai dengan waktu fajar masing-masing wilayah. Mulai dari awal fajar astronomis dengan ketinggian Matahari -18° atau 75 menit sebelum matahari terbit (sekitar pukul 04.30 waktu setempat), hingga fajar bahari, di mana ketika ketinggian Matahari -6° atau 25 menit sebelum matahari terbit (sekitar pukul 05.30 waktu setempat).

"Sejak 4 hingga 30 Juni, Merkurius akan memiliki kecerlangan yang bervariasi antara +2,06 hingga -0,61. Hal ini menunjukkan bahwa Merkurius akan semakin terang sampai di pengujung bulan Juni. Sedangkan untuk Venus bervariasi, antara -3,94 hingga -3,89, yang artinya akan sedikit redup pada akhir Juni," jelas Andi.

"Sementara itu, Uranus bervariasi antara +5,89 hingga +5,87, yang artinya Uranus akan sedikit lebih terang pada akhir Juni. Serupa dengan Mars, Jupiter, dan Saturnus yang berturut-turut bervariasi, antara +0,57 hingga +0,47, -2,25 hingga -2,41, dan +0,68 hingga +0,56," beber Andi.

Bisa dilihat langsung, kecuali Uranus

Andi mengatakan, semua fenomena ini dapat disaksikan tanpa menggunakan alat bantu optik, kecuali Uranus.

"Hal ini disebabkan karena kecerlangannya lebih besar +4,7 dari batas magnitude visual maksimum bagi wilayah perkotaan, sehingga diperlukan teleskop kecil berdiameter 10-25 cm agar dapat menyaksikan Uranus," ungkapnya.

Andi menambahkan, untuk dapat melihat fenomena ini dapat disaksikan selama cuaca cukup cerah, bebas dari polusi cahaya dan medan pandang yang bebas dari penghalang.

Bahkan, bagi wilayah yang polusi cahayanya nyaris tidak ada (kondisi langit benar-benar bersih), Uranus dapat disaksikan tanpa menggunakan teleskop karena kecerlangan lebih kecil dari +6,5. Jadi jangan lewatkan fenomena planet sejajar subuh ini.

Thursday, June 16, 2022

Thursday, June 16, 2022

Inti Bumi Goyang, Durasi Satu Hari Berubah Tiap 6 Tahun


Negaratoto - Inti dalam Bumi berosilasi, bergoyang lembut dan berputar-putar dari satu arah ke arah lain dalam siklus enam tahun. Menurut penelitian terbaru, aktivitas ini memengaruhi panjang hari di planet kita.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Science Advances, teori baru tentang cara kerja bagian dalam Bumi ini bertentangan dengan gagasan sebelumnya tentang lapisan geologis. Studi sebelumnya menyebutkan, lapisan geologis terdalam planet berputar bersama bagian planet lainnya dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dibandingkan bagian permukaan.

Dikutip dari IFL Science, Kamis (16/6/2022) inti dalam Bumi berwujud bola merah panas dari besi padat yang dikelilingi oleh inti luar yang cair, kemudian mantel, lalu kerak Bumi.

Pada tahun 1990-an, penelitian menunjukkan bahwa sudut dalam Bumi mengalami rotasi super, di mana inti dalam berputar sedikit lebih cepat daripada bagian planet lainnya. Teori ini didukung oleh penelitian yang mempelajari gelombang yang dihasilkan dari uji coba bom nuklir bawah tanah yang dilakukan oleh Uni Soviet sekitar tahun 1971 hingga 1974 di kepulauan Novaya Zemlya, Rusia utara.

Dalam studi terbaru, para ilmuwan dari University of Southern California (USC) menggunakan metodologi yang sama untuk mempelajari sepasang tes atom bawah tanah sebelumnya di bawah Pulau Amchitka di ujung kepulauan Alaska pada tahun 1969-1971.

Anehnya, hasilnya menunjukkan bahwa inti bagian dalam bergerak perlahan ke arah yang berbeda antara tahun 1969-1971, diketahui sub-rotasi setidaknya sepersepuluh derajat per tahun, dibandingkan dengan arah pergerakannya antara tahun 1971-1974.


"Dari temuan kami, kami dapat melihat pergeseran permukaan Bumi dibandingkan dengan inti dalamnya, seperti yang telah dinyatakan orang selama 20 tahun," kata John E Vidale, rekan penulis studi dan Dekan Profesor Ilmu Bumi di USC Dornsife College of Letters, Arts and Sains.

Ia menyebutkan, pengamatan terbaru mereka menunjukkan bahwa inti dalam berputar sedikit lebih lambat dari 1969-1971, kemudian bergerak ke arah lain dari 1971-1974.

"Inti bagian dalam tidak tetap itu bergerak di bawah kaki kita, dan tampaknya akan bolak-balik beberapa kilometer setiap enam tahun," tambah Vidale.

Cara kerja bagian dalam planet kita juga memiliki pengaruh kecil namun signifikan terhadap lamanya hari di Bumi. Kita sering menganggap hari-hari di Bumi berlangsung secara konstan. Nyatanya, hari-hari yang kita lalui dapat mengalami variasi yang cukup banyak. Sekitar 300 juta tahun yang lalu, misalnya, satu hari di Bumi akan berlangsung sekitar 21 jam. Bahkan, lamanya hari bisa bervariasi dalam waktu satu dekade.

Panjang hari ditentukan oleh kecepatan rotasi planet. Ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, tetapi diyakini terkait dengan perubahan medan magnet Bumi, yang dihasilkan di inti bumi.

Studi baru mencatat bahwa panjang hari tumbuh dan menyusut seperti yang mereka prediksi, plus atau minus 0,2 detik setiap enam tahun, berdasarkan perubahan di dalam inti dalam Bumi.

Namun, masih banyak pertanyaan yang tersisa. Banyak dari penelitian ini dimungkinkan melalui data yang diungkapkan oleh uji coba nuklir bawah tanah. Karena jumlah uji coba nuklir telah menurun secara signifikan sejak Perang Dingin, data ini menjadi semakin langka dan para ilmuwan terpaksa bekerja dengan data gempa yang relatif tidak akurat.

Namun demikian, para peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam misteri arsitektur bagian dalam Bumi untuk lebih memahami bagaimana dan mengapa inti Bumi berperilaku dengan cara yang aneh.

"Salah satu pertanyaan yang kami coba jawab adalah, apakah inti dalam bergerak secara progresif atau sebagian besar terkunci dibandingkan dengan yang lainnya dalam jangka panjang? Kami mencoba memahami bagaimana inti dalam terbentuk dan bagaimana ia bergerak seiring waktu. Ini adalah langkah penting dalam memahami proses ini dengan lebih baik," tutup Vidale.

Tuesday, June 7, 2022

Tuesday, June 07, 2022

Bukan UFO, Alien Mungkin Tumpangi Planet untuk Jelajahi Antariksa


Negaratoto - Selama ini, teori soal kedatangan alien pasti dibarengi dengan kehadiran UFO sebagai kendaraannya. Kini, seorang peneliti mengajukan teori baru yang cukup mengejutkan yaitu alien bisa saja menumpang planet yang mengambang bebas untuk menjelajahi antariksa.

Konsep 'penumpang kosmik' ini merupakan hasil pemikiran Irina Romanovskaya, seorang dosen fisika dan astronomi di Houston Community College, lewat studinya yang diterbitkan di International Journal of Astrobiology.

"Hampir 10 tahun yang lalu, ketika membaca tentang penemuan planet yang mengambang bebas, saya memikirkan skenario hipotetis tentang planet yang mengambang bebas mendekati Tata Surya," kata Romanovskaya, seperti dikutip dari Vice, Senin (6/6/2022).

"Tidak ada lampu lintas di galaksi. Jika Tata Surya kebetulan berada di tengah jalan planet yang mengambang bebas, planet itu tidak akan berhenti di lampu merah. Planet itu akan terbang melewati Tata Surya. Kemungkinan terjadinya event seperti itu akan bergantung pada berapa banyak planet mengambang bebas di galaksi kita, yang saat itu masih dalam estimasi," sambungnya.


Kini, ilmuwan memperkirakan ada puluhan miliar planet yang mengambang bebas karena keluar dari sistem bintangnya akibat interaksi dengan objek lainnya. Planet-planet seperti ini sulit ditemukan karena tidak ada cahaya dari bintang di dekatnya untuk meneranginya.

Romanovskaya mengatakan planet-planet ini mungkin masih bisa dihuni, terutama jika memiliki lautan di bawah permukaan. Planet seperti ini memang diperkirakan ada di tata surya kita.

Planet juga memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan pesawat biasa seperti UFO yang harus dibangun dengan susah payah oleh alien penjelajah luar angkasa. Romanovskaya mengatakan planet sudah memiliki sumber daya alam seperti air dan logam berharga yang bisa mentenagai perjalanan ini.

Habitat alami di planet ini juga bisa menjadi tameng yang efektif untuk menangkal radiasi di luar angkasa, dan gravitasi yang sudah ada bisa membuat alien tidak perlu mengembangkan gravitasi buatan.

Romanovskaya juga memberikan cara untuk mencari alien yang mungkin mengikuti perjalanan antar planet seperti ini. Misalnya dengan mencari tanda radiasi elektromagnetik tidak biasa di sekitar planet yang mengambang bebas.

Spesies alien yang sudah memahami perjalanan seperti ini juga bisa saja meninggalkan 'technosignatures' dalam rutenya, di mana jejak ini bisa diikuti dan diidentifikasi dari Bumi.

Teleskop James Webb yang baru diluncurkan juga bisa mendeteksi radiasi inframerah, yang mungkin saja dipancarkan oleh planet mengambang bebas yang sudah diubah oleh alien menjadi pesawat luar angkasa.

Tidak hanya peradaban alien, Romanovskaya mengatakan teori seperti ini juga bisa diterapkan oleh manusia di Bumi. Jika suatu saat matahari sudah mulai sekarat, manusia bisa saja mencegat planet yang lewat dan menumpanginya untuk menuju kehidupan yang baru.

"Beberapa populasi manusia mungkin juga memutuskan untuk pindah ke sistem planet lain untuk memperluas kehadiran peradaban kita di galaksi. Atau, manusia dapat mengirim sejumlah besar teknologi untuk menjelajahi bintang dan ruang luar angkasa," pungkasnya.