Breaking

Showing posts with label Fenomena. Show all posts
Showing posts with label Fenomena. Show all posts

Wednesday, July 27, 2022

Wednesday, July 27, 2022

Fenomena Kutang dan Celana Dalam Berserakan di Gunung Sanggabuana


Negaratoto - Ada fenomena tak biasa di Gunung Sanggabuana, Karawang. Banyak kutang dan celana dalam bertebaran. Fenomena ini terkait mitos yang beredar di sana. Seperti apa?

Solihin (36), salah satu warga dari Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang menjelaskan fenomena pakaian dalam yang berserakan itu.

Katanya, hal itu sudah sering dilakukan oleh warga yang berziarah dan juga pengunjung atau pendatang saat bulan Mulud (Maulid) sebagai salah satu ritual buang sial di Gunung Sanggabuana.

"Buang celana dalam itu memang sudah menjadi ritual yang dilakukan oleh peziarah saat bulan Mulud (Maulid) pengunjung atau pendatang kalau selesai dari Pegunungan Sanggabuana, katanya membuang sial," kata Solihin yang juga aktif sebagai pendaki saat dihubungi melalui telepon selular, Senin (25/10/2021) lalu.

Dari mitos yang beredar, pengunjung yang datang ke kawasan Gunung Sanggabuana harus mencari sumber mata air yang bernama "Pancuran Emas" dan wajib mandi di pancuran tersebut. Setelah mandi, semua yang melekat dibadannya harus dibuang.

"Jadi memang mitos ini sudah beredar luas di masyarakat, dan mereka meyakini bisa menghilangkan kesialan dalam hidupnya," katanya.

Dijelaskannya, kebanyakan peziarah, pengunjung atau pendatang berasal dari luar Karawang. Karena aksi itu, pakaian dalam yang dibuang dan dikumpulkan mencapai berkarung-karung.


"Kalau kayak sekarang itu bulan Mulud pasti banyak celana dalam berserakan di Gunung Sanggabuana, bahkan sampaI berkarung-karung kalau dikumpulkan," tandasnya.

Sementara itu, Wildlife Photograpy Bernard T Wahyu yang juga Ketua Tim Ekspedisi Fauna Pegunungan Sanggabuana membenarkan mitos yang beredar di masyarakat soal mandi di "Pancuran Emas" bisa membuang sial.

"Di Gunung Sanggabuana memang terdapat beberapa makom (petilasan) beberapa mata air, atau pancuran dan di situ terkenal mitosnya yakni setelah mandi diyakini bisa membuang sial dengan cara harus membuang pakaian dalamnya," katanya.

Ritual buang kutang di Gunung Sanggabuana ada tarifnya
Ritual buang pakaian di Gunung Sanggabuana diyakini dapat membuang sial. Ternyata kegiatan itu dikenakan tarif hingga ratusan ribu rupiah.

Bernard mengatakan selama penjelajahan di Gunung Sanggabuana, tim menemukan ada 4 mata air yang dipakai untuk ritual, yakni Pancuran Mas, Pancuran Kejayaan, Pancuran Kahuripan, dan Pancuran Sumur Tujuh.

Sedangkan makamnya ada 14, beberapa diberi nama Makam Eyang Haji Ganda Mandir, Taji Malela, Kyai Bagasworo, Ibu Ratu Galuh, Eyang Abdul Kasep, Eyang Sapujagat, Eyang Langlang Buana, Eyang Jagapati, dan Eyang Cakrabuana.

"Dari 4 mata air dan 14 makam itu dipakai ritual buang sial. Bahkan setiap ritual dikenakan tarif perorang yang dipandu kuncen itu sekitar Rp 250 ribu, buat memandu ritual dan ubo rampenya. Ada juga yang gratis tapi hanya sekedar mandi di pancuran lalu buang celana dalam dan pakaian doang lalu balik," kata Bernard.

Wednesday, July 27, 2022

Jangan Lewatkan, Akan Ada 3 Hujan Meteor Jelang Akhir Juli


Negaratoto - Bagi para pecinta astronomi yang menantikan hujan meteor, akan ada tiga hujan meteor yang di langit malam menjelang akhir Juli 2022, tepatnya pada 28 Juli dan 30 Juli 2022.

Dikutip dari situs astronomi Langitselatan.com, 28 Juli adalah waktunya kedatangan hujan meteor Piscis Austrinid, sedangkan 30 Juli akan ada hujan meteor Delta Aquarid Selatan. Berikut ini penjelasannya:

28 Juli - Hujan Meteor Piscis Austrinid
Hujan meteor Piscis Austrinid akan menjadi hujan meteor pertama yang berada pada puncak aktivitas di bulan Juli dengan maksimum 5 meteor setiap jam.

Berlangsung sejak 15 Juli sampai 10 Agustus, hujan meteor ini akan tampak datang dari rasi Piscis Austrinus dengan kecepatan 35 km/detik. Hujan meteor Piscid Austriid bisa diamati mulai pukul 19:52 WIB sampai fajar menyingsing.

30 Juli - Hujan Meteor Delta Aquarid Selatan
Hujan meteor Delta Aquariid merupakan hujan meteor yang berasal dari pecahan komet Marsden dan Kracht Sungrazing. Sama seperti eta Aquarid, hujan meteor delta Aquarid selatan yang berlangsung dari 12 Juli - 23 Agustus, juga tampak berasal dari rasi Aquarius. Hujan meteor ini akan mencapai puncaknya pada tanggal 30 Juli dengan 25 meteor per jam dengan kecepatan 41 km/det.


Hujan meteor Aquarid sudah bisa diamati sejak pukul 19:44 WIB sampai fajar menyingsing. Tepat saat radian hujan meteor Delta Aquarid Selatan terbit, Bulan sabit terbenam di ufuk barat. Karena itu tidak akan ada Bulan sampai fajar menyingsing.

30 Juli - Alpha Capricornid
Selain Delta Aquarid Selatan dan Piscis Austrinid, pada tanggal 30 Juli hujan meteor Alpha Capricornid akan mencapai puncaknya. Hujan meteor yang berlangsung dari 3 Juli sampai 15 Agustus akan tampak datang dari arah rasi Capricorn dan berasal dari komet 45P Honda-Mrkos-Pajdusakova. Dugaan lain asal hujan meteor ini dari asteroid 2002 EX12 yang kemudian dikenal sebagai komet 169P/NEAT.

Puncak hujan meteor Capricornid akan terjadi tanggal 30 Juli dengan laju 5 meteor per jam. Akan tetapi, biasanya ada bola api yang terbentuk dan melintas di langit malam.

Rasi Capricorn sudah terbit sejak Matahari terbenam dan pengamat bisa menikmati hujan meteor Alpha Capricornid sepanjang malam sampai fajar menyingsing. Bulan terbenam pada pukul 19:45 WIB. Karena itu tidak akan ada Bulan sampai fajar menyingsing.

Tuesday, July 26, 2022

Tuesday, July 26, 2022

Seramnya Langit Merah di Berbagai Negara, Salah Satunya Indonesia


Negaratoto - Fenomena langit berwarna merah kerap terjadi akibat peristiwa alam. Meski beberapa wilayah di dunia pernah mengalaminya, tetap saja peristiwa langit berwarna merah akan menarik perhatian warga setempat, dan tak jarang membuat panik.

Penampakan langit berwarna merah kerap dihubung-hubungkan dengan akhir zaman atau kiamat. Padahal, peristiwa ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Berikut ini beberapa penampakan langit merah di berbagai negara yang sempat menghebohkan.

Langit Merah di Jambi
Di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada September 2019, langit di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, terlihat memerah. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (sekarang BRIN), menjelaskan fenomena itu disebabkan tebalnya asap.

"Itu disebabkan karena tebalnya asap. Cahaya Matahari tidak bisa seluruhnya menembus asap. Dugaan saya, hanya gelombang panjang (kuning dan merah) yang bisa menembusnya, lalu dihamburkan oleh partikel-partikel asap. Jadilah langit terlihat berwarna merah kekuningan," kata Profesor Thomas Djamaluddin yang saat itu menjabat sebagai Kepala LAPAN.

Djamal mengatakan fenomena ini disebut juga Mie scattering atau hamburan Mie, yaitu hamburan cahaya oleh partikel yang ukurannya sama dengan panjang gelombang cahayanya.

Buat kalian yang bingung mengapa namanya hamburan Mie, ini diambil dari nama penemu teori yang menjelaskan teori hamburan cahaya tersebut, yaitu Gustav Adolf Feodor Wilhelm Ludwig Mie.

Langit Merah di Australia
Sama dengan yang dialami Indonesia, awal tahun 2020 Australia menghadapi bencana kebakaran hutan terdahsyat. Api melumat di negara bagian New South Wales, Victoria dan Western Australia.

Saking parahnya kebakaran hutan, langit Australia sampai berwarna merah darah yang begitu mengerikan. Saat malam hari, asap yang sangat pekat memantulkan warna merah dari api yang menyala membakar semak dan pepohonan.

Langit Merah di China
Mei tahun ini, langit di Provinsi Zhejiang, China menjadi merah menyala, seperti adegan kehancuran dalam film fiksi ilmiah. Biro meteorologi lokal Zhoushan, sebuah kota di Provinsi Zhejiang China Timur, mengumumkan pada Minggu (8/5) waktu setempat, bahwa langit merah menyala yang muncul di daerah ini, disebabkan oleh pembiasan dan hamburan cahaya.

Kemungkinan besar sumber hamburan cahaya ini berasal dari lampu kapal di pelabuhan. Staf Biro Meteorologi Zhoushan menjelaskan, cuaca berkabut dan berawan di Zhoushan pada Sabtu (7/5) dan gerimis pada saat langit merah mungkin disebabkan oleh pantulan cahaya dari awan tingkat rendah.

"Saat kondisi cuaca bagus, lebih banyak air di atmosfer membentuk aerosol yang membiaskan dan menyebarkan cahaya kapal penangkap ikan dan membuat langit merah terlihat oleh publik," kata staf biro meteorologi.


"Hujan Darah" di Inggris
Yang terjadi di Inggris bukan langit merah, melainkan "hujan darah". Inggris dan sejumlah negara di Eropa dilanda fenomena ini pada Mei 2022. Sesuai namanya, hujan itu berwarna merah.

Adapun yang menjadi penyebabnya adalah debu yang berasal dari gurun Sahara dan terbawa oleh angin. Citra satelit dari lembaga antariksa European Space Agency (ESA) menampakkan gelombang debu dari Sahara mengarah ke Laut Atlantik sampai Karibia.

Nah, debu itu diprediksi juga bisa sampai ke tanah Inggris. "Mungkin akan bercampur dengan hujan, sehingga mungkin ada sisa debunya di kendaraan misalnya setelah hujan," kata ilmuwan cuaca Mark Parrington.

Sebelumnya, debu dari gurun Sahara itu sudah memerahkan sebagian wilayah Eropa. Salah satu akibatnya adalah bagian rumah seperti jendela dan kendaraan warga setempat kotor karena diselimuti dengan debu berwarna merah.

Ilmuwan dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menyatakan bahwa dari waktu ke waktu, makin banyak debu yang terbawa angin dari Sahara ke sebagian Eropa dan Mediterania. Beberapa waktu lalu, debu itu menyebabkan langit di beberapa kota di Spanyol termasuk Madrid menjadi berwarna merah.

Langit Australia Warna Pink
Cahaya merah muda misterius menerangi langit di atas kota Mildura di Australia pada Rabu (20/7) pekan lalu, membuat penduduk bertanya-tanya apakah mereka menyaksikan invasi alien, cahaya utara salah tempat, atau semacam suar Matahari.

Berbeda dengan kejadian langit merah di Australia pada tahun 2019, cahaya merah muda yang muncul kali ini rupanya memancar dari fasilitas ganja medis di pinggiran Mildura. Pancaran warna pink di langit secara tidak sengaja mengungkap lokasi fasilitas ini yang sebelumnya dirahasiakan.

Saat kejadian, fasilitas tersebut sedang menguji lampu LED sehingga memantul ke langit malam yang mendung dan menciptakan pemandangan supernatural yang menakutkan sekaligus menghibur kota dengan 56 ribu penduduk itu.

Ketika penjaga keamanan fasilitas menyelidiki sumber cahaya merah muda, dia menyadari bahwa kemunculannya menarik perhatian di sekitar Mildura yang berjarak sekitar 340 mil barat laut Melbourne.

Mereka biasanya menggunakan tirai peredam cahaya untuk menyembunyikan lampu LED spektrum merah yang digunakan untuk mendorong pertumbuhan tanaman ganja.

Tetapi di hari saat kejadian, tirai dibiarkan terbuka untuk sementara waktu, sehingga mengirimkan sinyal yang terlihat bermil-mil di sekitar fasilitas yang terletak di negara bagian Victoria bagian tenggara.

Monday, July 25, 2022

Monday, July 25, 2022

Astronom Temukan Dunia dengan 3 Matahari, Dulunya Malah 4


Negaratoto - Tata Surya yang kita tinggali, unik dari sudut pandang kita karena kehidupan ada di satu bagian kecil alam semesta ini di galaksi Bima Sakti. Keberadaan kehidupan ini didukung oleh Matahari di mana semua planet berputar.

Bayangkan ada sebuah sistem Tata Surya dengan empat Matahari. Sistem ini saling terjepit erat, dan para astronom berspekulasi ada empat bintang dalam sistem ini sampai tiga Matahari lainnya melahap yang keempat.

Para astronom untuk pertama kalinya menemukan sistem unik yang memiliki dua bintang biner yang mengorbit satu sama lain dan bintang yang lebih besar mengorbit keduanya. Dunia ini mereka namakan HD 98800 yang terletak 150 tahun cahaya di konstelasi TW Hydrae.

Bintang-bintang biner mengorbit satu sama lain dalam satu hari, mirip dengan Bumi yang menyelesaikan satu rotasi dalam 24 jam. Kedua Matahari, jika digabungkan, memiliki berat 12 kali massa Matahari kita.

"Sejauh yang kami tahu, ini adalah yang pertama dari jenisnya yang pernah terdeteksi. Kita tahu banyak tentang sistem bintang tersier (sistem bintang tiga), tetapi mereka biasanya secara signifikan kurang masif. Bintang-bintang masif dalam sistem rangkap tiga ini sangat berdekatan satu sama lain, ini adalah sistem yang kompak," kata Alejandro Vigna-Gomez dari Institut Niels Bohr di University of Kopenhagen, dikutip dari India Today.


Alejandro berkolaborasi dengan rekan penelitinya Bin Liu dari China untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana kombinasi unik dari kumpulan bintang biner dan bintang besar yang berputar ini terbentuk.

Para peneliti bingung dengan keberadaan bintang ketiga dalam sistem ini, yang beratnya 16 kali massa Matahari kita dengan orbit lingkaran dalam yang mengelilingi dua bintang enam kali setiap tahun.

Sistem ini, karena kecerahannya yang tinggi, pertama kali ditemukan oleh komunitas astronom amatir, yang mengambil data dari observatorium Transiting Exoplanet Survey Satellite milik NASA. Awalnya, mereka menganggapnya sebagai anomali dan memberi tahu astronom profesional yang kemudian mengonfirmasinya sebagai sistem bintang tiga yang unik.

Kedua peneliti kemudian mengkodekan data dan menjalankan 1.00.000 iterasi pada superkomputer untuk menilai hasil yang paling mungkin dari skenario ini.

"Sekarang kami memiliki model skenario yang paling mungkin pada sistem unik ini. Tapi model saja tidak cukup. Dan ada dua cara kita dapat membuktikan atau menguraikan teori kita tentang formasi ini. Salah satunya mempelajari sistem secara rinci dan yang lainnya membuat analisis statistik populasi bintang," kata Alejandro.

"Jika kita masuk ke sistem secara rinci, kita harus mengandalkan keahlian seorang astronom. Kami sudah melakukan observasi awal, tapi kami masih harus melihat data dan memastikan kami menafsirkannya dengan baik," jelas Alejandro.

Kedua peneliti saat ini memanfaatkan teleskop dan observatorium yang tersebar di seluruh dunia untuk melihat sistem yang unik ini.

Saturday, July 23, 2022

Saturday, July 23, 2022

Langit Australia Tiba-tiba Jadi Pink, Warga Kira Mau Kiamat!


Negaratoto - Warga Australia digegerkan dengan penampakan langit berwarna pink. Beberapa merasa ngeri bahkan menyangka kiamat sudah tiba. Eh tapi ternyata warna itu disebabkan hal lain.

Penampakan langit malam berwarna pink itu terjadi pada Rabu (20/7/2022) di Kota Mildura, Victoria utara. Salah seorang warga yang khawatir akan kiamat itu bernama Tammy Szumowski.

Dilansir dari BBC, Tammy berusaha tidak panik ketika melihat langit pink itu. Dia mengatakan kepada anak-anaknya supaya jangan khawatir namun ia sendiri bertanya-tanya penyebab langit pink muncul malam itu.

Sementara itu, warga lokal lain bernama Nikea Champion sempat menduga langit pink ini disebabkan bulan merah. Tetapi setelah dilihat lagi, cahaya pink itu berasal dari tanah, bukan dari langit.


Selidik punya selidik, penyebab warna pink pada langit Mildura itu berasal dari ladang ganja. Loh, kok bisa?

Begini, aparat Mildura menemukan pembiasan ultraviolet dari ladang ganja yang dikelola perusahaan Cann Group. Lampu berwarna merah digunakan untuk membantu tanaman ganja tumbuh. Setiap malam tiba, ladang itu bakal ditutup dengan tirai.

Namun pada hari peristiwa terjadi, tirai itu tidak dapat bekerja. Karena itulah, terjadi pembiasan cahaya ke langit.

Rupanya, fenomena langit pink di Australia ini tidak seseram yang dibayangkan orang-orang. Mereka hanya tidak pernah tahu bahwa ladang ganja di dekat permukiman mereka akan ditutup setiap malam.

Ganja sebagai obat memang legal digunakan di Australia sejak 2016. Akan tetapi konsumsi untuk hiburan sampai saat ini masih dilarang. Oleh sebab itu, sejumlah ladang ganja kerap dirahasiakan lokasinya dengan alasan keamanan.

Saturday, July 16, 2022

Saturday, July 16, 2022

Hujan Meteor Akan Terjadi Akhir Juli 2022, Peneliti BRIN Beri Tips Melihatnya


Negaratoto - Siapa yang tidak tahu hujan meteor? Fenomena astronomi yang satu ini terjadi setiap tahun. Meteor tampak seperti bintang jatuh, padahal wujud aslinya adalah batuan atau debu antar planet yang memasuki atmosfer lalu terbakar karena gesekan atmosfer.

Thomas Djamaluddin, salah satu peneliti di bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, hujan meteor Alpha-Capricornids dan Delta-Aquariids akan terjadi pada akhir Juli nanti. Kedua hujan meteor tersebut terjadi di langit selatan, sehingga dapat diamati dari Indonesia.

Jadwal Hujan Meteor Juli 2022
"Hujan meteor Alpha-Capricornids bisa diamati pada 30-31 Juli 2022 mulai pukul 20.00 WIB di ufuk timur. Namun, waktu terbaik adalah setelah lewat tengah malam di arah langit selatan. Diperkirakan ada sekitar 5 meteor per jam yang tampak melintas di langit. Hujan meteor ini berasal dari gugusan debu komet 169P/NEAT yang berpapasan dengan bumi," kata Thomas dikutip dari situs resmi BRIN, Jumat (15/7/2022).

Lebih lanjut dia menjelaskan, debu-debu komet yang berukuran kecil memasuki atmosfer bumi dan terbakar, sehingga akan timbul seperti bintang jatuh. Meskipun jumlah meteornya sedikit, terkadang hujan meteor menampakkan meteor terang dari sisa-sisa komet yang berukuran lebih besar.

Sementara itu, hujan meteor Delta-Aquariids bisa diamati pada 29-30 Juli mulai pukul 23.00 WIB di ufuk timur. Puncaknya sekitar pukul 02.00 WIB di langit selatan.


"Hujan meteor ini menampilkan belasan meteor per jam. Debu-debu komet 96P/Machholz diduga jadi sumber hujan meteor ini," tambah Thomas.

Cara Melihat Hujan Meteor Akhir Juli 2022
Kedua hujan meteor tersebut akan jadi daya tarik bagi pengamat langit di Indonesia. Kondisi kemarau dan tanpa gangguan cahaya bulan ini akan membuat pengamatan hujan meteor lebih menarik. Bagi kalian yang ingin menyaksikan, perhatikan tips yang disampaikan oleh peneliti BRIN.

Pastikan kamu memilih lokasi pengamatan yang pas dan minim dari gangguan. Adapun gangguan yang dimaksud seperti cahaya lampu, bangunan atau pepohonan yang menutupi langit.

"Berbahayakah hujan meteor ini? Sama sekali tidak berbahaya. Debu-debu sisa komet habis terbakar pada ketinggian di atas 80 km," pungkas Thomas.

Apa Penyebab Hujan Meteor?
Mengutip dari Scientific American, hujan meteor terjadi ketika bumi melintas dekat orbit komet dan melalui serpihan-serpihannya. Meskipun orbit bumi yang mengelilingi matahari biasanya berbentuk lingkaran, sebagian besar komet bergerak dalam orbitnya berbentuk elips atau memanjang.

Biasanya, hujan meteor terjadi ketika partikel-partikel dari asteroid atau komet meluncur ke atmosfer bumi dalam kecepatan tinggi. Lalu, ketika mereka bersinggungan dengan permukaan atmosfer, meteor bergesekkan dengan partikel udara dan gesekkan tersebut menyebabkan timbulnya panas. Dari panas itu, muncul hujan meteor.

Friday, July 8, 2022

Friday, July 08, 2022

Fenomena Aneh Langit Jadi Hijau Pekat Gegerkan Warga


Negaratoto - Para penduduk di kota Sioux Falls, South Dakota, Amerika Serikat, baru-baru ini merasa mereka tengah berada di salah satu adegan serial terkenal Stranger Things. Pasalnya, ada fenomena aneh di mana langit di area mereka berubah warnanya menjadi hijau dalam waktu cukup lama. Ya, langit hijau pekat.

Terlihat bagaimana langit dan awan menghampar kehijauan di sana, yang banyak dibagikan ke media sosial terutama di Twitter. Terlihat pemandangan langit menjadi sangat hijau sehingga seperti bukan di dunia nyata.

Lembaga peneliti cuaca di Amerika Serikat, National Weather Service (NSW), kemudian mengungkap bahwa penyebab langit menjadi hijau itu berkaitan dengan derecho, badai angin intens garis lurus yang tersebar luas.


Seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (8/7/2022), badai tornado memang sedang melanda wilayah itu. Pemandangan langit hijau ini membuat sebagian warga merasa seperti berada di film fiksi ilmiah.

"Sebenarnya relatif umum untuk melihat langit hijau ini, tapi langit di atas Sioux Falls pada 5 Juli itu memang terlihat lebih hijau dari biasanya," kata Isaac Longley selaku pakar cuaca dari AccuWeather.

"Fenomena itu tentunya menarik perhatian bagi banyak orang yang belum pernah melihat langit menjadi begitu hijau. Dalam kasus ini, langit warna hijau bertahan dalam waktu antara 10 sampai 20 menit seiring badai mendekati kota Sioux Falls," tambah dia.

Badai topan yang melanda kota itu berlangsung cukup hebat, di mana salah satu dampaknya adalah sekitar 26 ribu penduduk di kota itu kehilangan arus listrik yang tumbang karena terjangan badai cukup intens.

Thursday, July 7, 2022

Thursday, July 07, 2022

Amazing! Foto Bumi Sebatang Kara di Tengah Luas Alam Semesta


Negaratoto - 'Pale Blue Dot' adalah salah satu foto Bumi yang paling populer dan ikonik. Diambil pada tanggal 14 Februari 1990 oleh kamera Imaging Science Subsystem (ISS) yang terdapat di wahana antariksa Voyager, foto itu menampakkan Bumi sebagai titik kecil di tengah luasnya alam semesta.

Pada tahun 2020, memperingati 3 dekade dijepretnya foto itu, NASA merekanya ulang menggunakan software modern. Hasilnya, foto itu terlihat lebih jelas dengan Bumi tetap terlihat sangat mungil, sebatang kara di luasnya alam semesta. Ada garis-garisnya yang merupakan refleksi sinar Matahari.

Pale Blue Dot diambil dari jarak sekitar 6 miliar kilometer dari Bumi atas permintaan dari penulis Carl Sagan. Ini adalah foto terakhir yang diambil oleh Voyager sebelum sistem kameranya dimatikan untuk menghemat daya.


Voyager saat ini telah menjelajah seluruh planet di Tata Surya dan terus melintas dengan kecepatan mencapai 64 ribu kilometer per jam. "Lihat foto itu sekali lagi. Itulah rumah. Itulah kita," begitu salah satu caption Pale Blue Dot.

Garry Hunt selaku salah seorang tim Voyager menyebut foto tersebut pada saat ini menjadi lebih relevan artinya dibanding masa-masa sebelumnya. Bahwa Bumi yang kecil itu harus dijaga dari berbagai ancaman, terutama dari perubahan iklim yang mengintai.

"Setiap kali saya bicara soal perubahan iklim dan apa yang dilakukan untuk membuat perubahan, saya menunjukkan gambar ini karena memperlihatkan Bumi adalah sebuah bintik yang terisolasi," kata dia.

"Dot kecil biru ini, pale blue dot, adalah satu-satunya tempat di mana kita dimungkinkan untuk tinggal dan kita telah membuat kekacauan padanya," pungkas Garry.

Saturday, July 2, 2022

Saturday, July 02, 2022

Fenomena Bulan Purnama Langka 9 Tahun Sekali, Terakhir Bisa Dilihat 14 Juli


Negaratoto - Fenomena bulan yang cukup langka sedang berlangsung sejak 14 Juni 2022 hingga 14 Juli 2022 mendatang. Pada waktu ini akan terjadi purnama istimewa, di mana Bulan Baru Mikro diapit oleh dua Supermoon.

Peneliti Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang, menjelaskan, purnama kali ini bertepatan dengan Bulan Purnama Super (Full Supermoon) atau yang secara teknis disebut Purnama Perige (Perigeal Full Moon).

Sementara itu, Bulan Baru Stroberi bertepatan dengan Bulan Baru Mikro (New Micromoon) atau Bulan Baru Apoge (Apogeal New Moon).

"Bulan Baru Mikro kali ini diapit oleh dua Bulan Purnama Super yang terjadi pada dua bulan berturut-turut. Fenomena ini terakhir kali terjadi pada tahun 2004 dan 2013," terang Andi, seperti dilansir dari laman BRIN, Sabtu (2/7/2022).

Bulan purnama yang terjadi pada bulan Juni disebut dengan Purnama Stroberi Super (Full Strawberry Supermoon), sedangkan pada bulan Juli disebut Purnama Rusa Super (Full Buck Supermoon). Definisi ini juga dipakai untuk fase Bulan baru.

Menurut Andi, penamaan tersebut berasal dari The Farmer's Almanac (Almanak Petani Amerika). Pada bulan Juni dilakukan panen stroberi, sedangkan pada bulan Juli rusa jantan muda mulai tumbuh tanduknya.

"Jadi penamaan ini sebenarnya berasal dari penanda musim dan perilaku hewan yang timbul pada musim-musim tertentu bagi penduduk asli Amerika," terang Andi.


Andi merinci, Purnama Stroberi Super terjadi pada 14 Juni 2022, pada pukul 18.51 WIB/ 19.51 WITA/ 20.51 WIT, pada jarak 357.368 KM, sedangkan Bulan Baru Stroberi Mikro terjadi pada 29 Juni 2022, pukul 09.52 WIB/ 10.52 WITA/ 11.52 WIT, pada jarak 406.569 KM.

Lalu, untuk Purnama Rusa Super akan terjadi pada 14 Juli 2022, pukul 01.57 WIB/ 02.57 WITA/ 03.57 WIT, pada jarak 357.418 KM.

Andi menambahkan, untuk Bulan Baru Stroberi Mikro tidak dapat disaksikan sebelum Matahari terbit. Sebab, terbitnya yang lebih lambat dibandingkan Matahari dan permukaan Bulan yang menghadap Bumi tidak terkena cahaya Matahari sehingga tampak gelap.

"Untuk menyaksikan fenomena ini, masyarakat cukup arahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya bulan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Fenomena ini bisa diamati tanpa perlu bantuan alat optik apapun, kecuali jika ingin mengabadikannya dalam bentuk foto ataupun video," jelasnya.

Seperti pada fase bulan baru pada umumnya, kata Andi, baik Purnama Stroberi Super, Bulan Baru Stroberi Mikro, maupun Purnama Rusa Super dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya karena adanya konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau Matahari-Bulan-Bumi yang terletak di posisi segaris.

Pasang laut tertinggi akan terjadi pada 14 Juni dan 14 Juli, sehingga disarankan bagi nelayan untuk tidak melaut di dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 12 hingga 16 Juni, dan 12 hingga 16 Juli 2022.

Saturday, June 25, 2022

Saturday, June 25, 2022

3 Mitos Fenomena Planet Sejajar, Ramalan Bencana hingga Kiamat


Negaratoto - Fenomena planet sejajar 24 Juni yang cantik menarik perhatian para pencinta astronomi. Tapi ternyata, di zaman kelam, fenomena ini pernah dianggap pertanda buruk selama beberapa abad.

Ada yang menyebut fenomena ini sebagai prediksi bencana, bahkan pertanda kiamat sudah dekat. Berikut ini sejumlah mitos fenomena planet sejajar, dirangkum detikINET dari berbagai sumber, Jumat (24/6/2022).

1. Ramalan bencana
Sejak penemuannya, fenomena planet sejajar sering dikaitkan dengan peristiwa unik dan bencana lain yang terkait dengan kiamat atau akhir dunia.

Nostradamus, pengarang ramalan ternama asal Prancis, menyebutkan bahwa fenomena planet sejajar adalah pertanda akan terjadinya gempa Bumi dahsyat di California, sebuah kota yang berisiko terkena bencana alam karena keberadaan "Sesar San Andreas".

Ramalan itu menjelaskan bahwa gempa yang sangat dahsyat akan terjadi di bulan Mei. Pada saat itu hujan es akan turun lebih besar dari sebutir telur. Menurut ramalannya, tragedi ini akan terjadi pada 28 Mei 2015. Namun, tidak terjadi apa-apa di tanggal dan tahun tersebut.


2. Kiamat sudah dekat
Salah satu mitos paling terkenal tentang fenomena planet sejajar yang menggemparkan adalah di tahun 2012, ketika dunia memprediksi tanggal 21 Desember di tahun tersebut adalah hari kiamat.

Menurut kalender kuno suku Maya, tanggal tersebut akan menandai hari terakhir umat manusia. Dan di tahun itu, Mars terlihat terbit dari barat, tetapi Jupiter, Saturnus, Venus, Merkurius, Uranus, dan Neptunus di Timur, dan ini adalah keselarasan yang langka.

Kemudian, Masyarakat Astronomi Karibia (SAC) mengatakan bahwa ketakutan ini disebabkan oleh mitos kuno bahwa penyelarasan planet berikutnya akan terjadi pada tahun 2040.

3. Gelombang besar dan tsunami
Masyarakat kuno meyakini terjadinya planet sejajar ini akan menimbulkan dampak seperti gelombang besar, bahkan akan terjadi tsunami. Tentunya baru mendengar semua prediksi itu, sudah membuat merinding dan merasa takut.

Untuk diketahui, tarikan gravitasi dari semua planet memang dapat berdampak pada pasang surut di Bumi. Namun, fenomena planet sejajar tidak berbahaya. Jarak Venus dari Bumi berdampak pada gaya pasang surut terbesar, meskipun hanya sebagian kecil dibandingkan dengan Bulan. Pesawat ruang angkasa juga dapat merasakan kekuatan yang sangat kecil saat gravitasi dari planet menariknya.

Segala sesuatu yang terjadi pastinya atas kehendak Tuhan, untuk itu tidak perlu takut berlebihan saat mendengar fenomena planet sejajar dan dampaknya.

Secara ilmiah pun, menurut NASA, ini adalah peristiwa alam. Pada 2013, Badan antariksa Amerika Serikat itu pernah mengatakan tidak akan ada peristiwa planet sejajar dalam beberapa dekade mendatang. Kalaupun terjadi, dampak kesejajaran planet ini kepada Bumi tidak berbahaya.

"Fenomena besar planet sejajar terjadi di 1962 contohnya, dan dua lainnya terjadi pada 1982 dan 2000. Setiap Desember, Bumi dan Matahari sejajar dengan pusat Galaksi Bima Sakti, dan ini adalah peristiwa tahunan yang tidak membahayakan Bumi," ujarnya.

Friday, June 24, 2022

Friday, June 24, 2022

Fenomena Planet Sejajar 24 Juni 2022, Subuh Nih!


Negaratoto - Sejak awal Juni, masyarakat dapat menyaksikan fenomena langka, di mana planet Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus berada pada konfigurasi segaris alias planet sejajar. Nah, subuh 24 Juni nanti adalah waktu yang dianggap paling oke untuk menyaksikannya.

Peneliti Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang mengungkapkan konfigurasi atau parade langit ini sudah bisa dinikmati dini hari mulai tanggal 4 Juni 2022. Fenomena langka ini akan terus berlanjut sampai akhir Juni 2022 dalam beberapa kali konfigurasi.

Konfigurasi pertama terdiri dari sejajarnya Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada 4-15 Juni 2022.

Selanjutnya, diikuti dengan konfigurasi kedua dengan susunan planet Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, Saturnus, dan Bulan pada 16-27 Juni 2022.

Lalu, diakhiri dengan konfigurasi dengan susunan yang sama dengan pertama, yakni Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada 28-30 Juni 2022.

Nah, formasi sejajar dari kelima planet dan Bulan itu akan tampak paling sempurna pada 23-24 Juni. Jadi bisa disaksikan pada besok subuh ini.


Andi menjelaskan, fenomena konfigurasi planet sejajar ini dapat disaksikan selama kurang lebih 50 menit sesuai dengan waktu fajar masing-masing wilayah. Mulai dari awal fajar astronomis dengan ketinggian Matahari -18° atau 75 menit sebelum matahari terbit (sekitar pukul 04.30 waktu setempat), hingga fajar bahari, di mana ketika ketinggian Matahari -6° atau 25 menit sebelum matahari terbit (sekitar pukul 05.30 waktu setempat).

"Sejak 4 hingga 30 Juni, Merkurius akan memiliki kecerlangan yang bervariasi antara +2,06 hingga -0,61. Hal ini menunjukkan bahwa Merkurius akan semakin terang sampai di pengujung bulan Juni. Sedangkan untuk Venus bervariasi, antara -3,94 hingga -3,89, yang artinya akan sedikit redup pada akhir Juni," jelas Andi.

"Sementara itu, Uranus bervariasi antara +5,89 hingga +5,87, yang artinya Uranus akan sedikit lebih terang pada akhir Juni. Serupa dengan Mars, Jupiter, dan Saturnus yang berturut-turut bervariasi, antara +0,57 hingga +0,47, -2,25 hingga -2,41, dan +0,68 hingga +0,56," beber Andi.

Bisa dilihat langsung, kecuali Uranus

Andi mengatakan, semua fenomena ini dapat disaksikan tanpa menggunakan alat bantu optik, kecuali Uranus.

"Hal ini disebabkan karena kecerlangannya lebih besar +4,7 dari batas magnitude visual maksimum bagi wilayah perkotaan, sehingga diperlukan teleskop kecil berdiameter 10-25 cm agar dapat menyaksikan Uranus," ungkapnya.

Andi menambahkan, untuk dapat melihat fenomena ini dapat disaksikan selama cuaca cukup cerah, bebas dari polusi cahaya dan medan pandang yang bebas dari penghalang.

Bahkan, bagi wilayah yang polusi cahayanya nyaris tidak ada (kondisi langit benar-benar bersih), Uranus dapat disaksikan tanpa menggunakan teleskop karena kecerlangan lebih kecil dari +6,5. Jadi jangan lewatkan fenomena planet sejajar subuh ini.

Tuesday, May 31, 2022

Tuesday, May 31, 2022

Dear Hulk, Petir Ternyata Bisa Hasilkan Sinar Gamma


Negaratoto - Orang awam tahu Sinar Gamma karena superhero Hulk. Namun ilmuwan sudah lama mengenalnya. Sinar gamma adalah gelombang cahaya paling energik yang dihasilkan di alam semesta. Begitu energiknya, sehingga mereka terlihat dalam peluruhan radioaktif tertentu, dalam banyak ledakan kosmik, dan juga dalam petir dan kilat.

Terestrial Gamma-ray flashes (TGF) dihasilkan oleh bremsstrahlung, sebuah kata bahasa Jerman yang jika diterjemahkan berarti 'radiasi pengereman', mengacu pada sebuah partikel bermuatan listrik yang dipercepat atau diperlambat yang akan memancarkan radiasi elektromagnetik. Dalam kasus TGF, penyebabnya adalah elektron dipercepat.

Dalam makalah baru, yang saat ini tersedia di ArXiv, para peneliti melaporkan pengamatan terbaru dari mitra optik TGF. Seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (31/5/2022) hal ini penting karena dua hipotesis utama untuk produksi sinar gamma oleh petir menghasilkan tanda yang berbeda dalam cahaya tampak.

Yang pertama adalah mekanisme Relativistic FeeDback (RFD), yang menunjukkan bahwa foton (partikel cahaya) dan positron (antimateri yang setara dengan elektron), menghasilkan umpan balik yang menghasilkan longsoran elektron.


Antimateri di awan petir terjadi sehingga skenario ini harus ditanggapi dengan serius. Jika model ini benar, seharusnya ada sangat sedikit atau tidak ada tanda dalam cahaya tampak dan sedikit sinar ultraviolet. Ini dikenal sebagai kilat gelap.

Penjelasan alternatifnya adalah, mekanisme produksi elektron pelarian termal, di mana medan listrik tinggi lokal akan menghasilkan kaskade elektron. Bidang ini akan sepuluh kali lebih tinggi dari bidang kerusakan konvensional.

"Mekanisme produksi elektron pelarian termal mengasumsikan bahwa peristiwa TGF diproduksi di sekitar ujung pita yang terkait dengan petir. Populasi elektron bebas kemudian dipercepat lebih lanjut dalam penurunan potensial di depan ujung petir ke elektron yang melarikan diri melalui mekanisme pelarian termal," kata para penulis di makalah tersebut.

Pelarian termal akan menghasilkan sinyal optik secara bersamaan dengan sinar gamma. Dan selama badai petir pada 11 September 2021, para peneliti menggunakan Telescope Array Surface Detector (TASD), yang mendeteksi sinar gamma dan sinyal optik dari badai petir, konsisten dengan mekanisme produksi pelarian termal.

"Data kami menunjukkan peningkatan substansial dalam cahaya tampak dalam korelasi dengan produksi TGF. Dari hasil ini tampaknya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa hasil kami mendukung model mekanisme pelarian termal dan tidak mendukung gagasan bahwa TGF adalah peristiwa gelap seperti yang diusulkan oleh mekanisme Umpan Balik Relativistik," tulis penulis dalam kesimpulan penelitian .

Ini bukan akhir dari cerita tentang sinar gamma yang berasal dari petir, masih jauh dari itu. Para ilmuwan saat ini ibarat sekadar menggores permukaan dari kompleksitas badai petir dan kilat. Studi lebih lanjut mengenai temuan ini pastinya akan menarik.

Monday, May 30, 2022

Monday, May 30, 2022

Indonesia Dilewati Fenomena Bulan Hitam, Begini Dampak yang Bakal Terjadi


Negaratoto - Fenomena bulan hitam merupakan salah satu peristiwa dalam astronomi yang kerap terjadi. Fenomena tersebut kembali muncul di Indonesia pada akhir Mei 2022 ini.

Dalam istilah astronomi, bulan hitam memiliki setidaknya empat definisi berbeda. Apa saja?

Pengertian Bulan Hitam
Mengutip CNN Indonesia, Peneliti di Pusat Riset Antariksa BRIN Andi Pangerang menjelaskan empat definisi bulan hitam, yakni:

1. Bulan hitam adalah fase bulan baru yang kedua dalam satu bulan Masehi. Fenomena ini cukup sering terjadi karena berlangsung periodik dengan periode 29 bulan.

2. Bulan hitam adalah fase bulan baru ketiga dalam musim astronomis yang mengandung empat fase bulan baru. Fenomena ini terjadi setiap 33 bulan.

3. Bulan hitam adalah fenomena di mana tidak terdapat fase bulan baru di bulan Februari. Fenomena ini terjadi setiap 19 tahun sekali.

4. Bulan hitam adalah fase bulan purnama di bulan Februari. Fenomena ini terjadi setiap 19 tahun sekali.


"Fenomena bulan hitam bisa terjadi berbeda-beda di setiap tempat dikarenakan zona waktu yang digunakan berbeda-beda di setiap tempat," ucap Andi.

Apa Dampak yang akan Terjadi?
Menurut Andi, fenomena bulan hitam ini dapat menyebabkan naiknya pasang laut. Dia juga mengimbau masyarakat untuk waspada saat hendak melaut.

"Sebagaimana fase bulan baru pada umumnya, bulan hitam dapat mengakibatkan naiknya pasang laut dibandingkan hari-hari lainnya ketika konfigurasi Bumi-Bulan-Matahari tidak segaris jika diamati dari atas kutub. Masyarakat diimbau agar tidak melaut saat air laut sedang pasang," paparnya.

Adapun waktu fase bulan baru keenam pada 2022 terjadi pada 30 Mei pukul 11.30.08 Universal Time (UT). Dengan waktu ini berarti untuk wilayah Eropa bagian Timur, Indonesia, hingga Kepulauan Line baru akan mengalami bulan hitam di penghujung Mei 2022.

Fenomena Bulan Hitam di Indonesia
Fenomena bulan hitam sebagai bulan baru kedua di dalam bulan Masehi sebelumnya pernah terjadi di Indonesia pada 31 Oktober 2016 dan 30 Agustus 2019.

Kemudian, bulan hitam sebagai bulan baru ketiga di dalam musim astronomis yang mengandung empat fase bulan baru sebelumnya pernah terjadi di Indonesia pada 22 Agustus 2017 dan 19 Agustus 2020.

Sedangkan, bulan hitam tripel (dua bulan hitam di akhir bulan Masehi dan tidak ada bulan baru di bulan Februari) pernah terjadi di Indonesia pada 2014.

Fenomena bulan hitam ini juga akan terjadi lagi beberapa tahun ke depan.