Breaking

Showing posts with label Planet. Show all posts
Showing posts with label Planet. Show all posts

Saturday, July 16, 2022

Saturday, July 16, 2022

Hujan Meteor Akan Terjadi Akhir Juli 2022, Peneliti BRIN Beri Tips Melihatnya


Negaratoto - Siapa yang tidak tahu hujan meteor? Fenomena astronomi yang satu ini terjadi setiap tahun. Meteor tampak seperti bintang jatuh, padahal wujud aslinya adalah batuan atau debu antar planet yang memasuki atmosfer lalu terbakar karena gesekan atmosfer.

Thomas Djamaluddin, salah satu peneliti di bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan, hujan meteor Alpha-Capricornids dan Delta-Aquariids akan terjadi pada akhir Juli nanti. Kedua hujan meteor tersebut terjadi di langit selatan, sehingga dapat diamati dari Indonesia.

Jadwal Hujan Meteor Juli 2022
"Hujan meteor Alpha-Capricornids bisa diamati pada 30-31 Juli 2022 mulai pukul 20.00 WIB di ufuk timur. Namun, waktu terbaik adalah setelah lewat tengah malam di arah langit selatan. Diperkirakan ada sekitar 5 meteor per jam yang tampak melintas di langit. Hujan meteor ini berasal dari gugusan debu komet 169P/NEAT yang berpapasan dengan bumi," kata Thomas dikutip dari situs resmi BRIN, Jumat (15/7/2022).

Lebih lanjut dia menjelaskan, debu-debu komet yang berukuran kecil memasuki atmosfer bumi dan terbakar, sehingga akan timbul seperti bintang jatuh. Meskipun jumlah meteornya sedikit, terkadang hujan meteor menampakkan meteor terang dari sisa-sisa komet yang berukuran lebih besar.

Sementara itu, hujan meteor Delta-Aquariids bisa diamati pada 29-30 Juli mulai pukul 23.00 WIB di ufuk timur. Puncaknya sekitar pukul 02.00 WIB di langit selatan.


"Hujan meteor ini menampilkan belasan meteor per jam. Debu-debu komet 96P/Machholz diduga jadi sumber hujan meteor ini," tambah Thomas.

Cara Melihat Hujan Meteor Akhir Juli 2022
Kedua hujan meteor tersebut akan jadi daya tarik bagi pengamat langit di Indonesia. Kondisi kemarau dan tanpa gangguan cahaya bulan ini akan membuat pengamatan hujan meteor lebih menarik. Bagi kalian yang ingin menyaksikan, perhatikan tips yang disampaikan oleh peneliti BRIN.

Pastikan kamu memilih lokasi pengamatan yang pas dan minim dari gangguan. Adapun gangguan yang dimaksud seperti cahaya lampu, bangunan atau pepohonan yang menutupi langit.

"Berbahayakah hujan meteor ini? Sama sekali tidak berbahaya. Debu-debu sisa komet habis terbakar pada ketinggian di atas 80 km," pungkas Thomas.

Apa Penyebab Hujan Meteor?
Mengutip dari Scientific American, hujan meteor terjadi ketika bumi melintas dekat orbit komet dan melalui serpihan-serpihannya. Meskipun orbit bumi yang mengelilingi matahari biasanya berbentuk lingkaran, sebagian besar komet bergerak dalam orbitnya berbentuk elips atau memanjang.

Biasanya, hujan meteor terjadi ketika partikel-partikel dari asteroid atau komet meluncur ke atmosfer bumi dalam kecepatan tinggi. Lalu, ketika mereka bersinggungan dengan permukaan atmosfer, meteor bergesekkan dengan partikel udara dan gesekkan tersebut menyebabkan timbulnya panas. Dari panas itu, muncul hujan meteor.

Saturday, June 25, 2022

Saturday, June 25, 2022

3 Mitos Fenomena Planet Sejajar, Ramalan Bencana hingga Kiamat


Negaratoto - Fenomena planet sejajar 24 Juni yang cantik menarik perhatian para pencinta astronomi. Tapi ternyata, di zaman kelam, fenomena ini pernah dianggap pertanda buruk selama beberapa abad.

Ada yang menyebut fenomena ini sebagai prediksi bencana, bahkan pertanda kiamat sudah dekat. Berikut ini sejumlah mitos fenomena planet sejajar, dirangkum detikINET dari berbagai sumber, Jumat (24/6/2022).

1. Ramalan bencana
Sejak penemuannya, fenomena planet sejajar sering dikaitkan dengan peristiwa unik dan bencana lain yang terkait dengan kiamat atau akhir dunia.

Nostradamus, pengarang ramalan ternama asal Prancis, menyebutkan bahwa fenomena planet sejajar adalah pertanda akan terjadinya gempa Bumi dahsyat di California, sebuah kota yang berisiko terkena bencana alam karena keberadaan "Sesar San Andreas".

Ramalan itu menjelaskan bahwa gempa yang sangat dahsyat akan terjadi di bulan Mei. Pada saat itu hujan es akan turun lebih besar dari sebutir telur. Menurut ramalannya, tragedi ini akan terjadi pada 28 Mei 2015. Namun, tidak terjadi apa-apa di tanggal dan tahun tersebut.


2. Kiamat sudah dekat
Salah satu mitos paling terkenal tentang fenomena planet sejajar yang menggemparkan adalah di tahun 2012, ketika dunia memprediksi tanggal 21 Desember di tahun tersebut adalah hari kiamat.

Menurut kalender kuno suku Maya, tanggal tersebut akan menandai hari terakhir umat manusia. Dan di tahun itu, Mars terlihat terbit dari barat, tetapi Jupiter, Saturnus, Venus, Merkurius, Uranus, dan Neptunus di Timur, dan ini adalah keselarasan yang langka.

Kemudian, Masyarakat Astronomi Karibia (SAC) mengatakan bahwa ketakutan ini disebabkan oleh mitos kuno bahwa penyelarasan planet berikutnya akan terjadi pada tahun 2040.

3. Gelombang besar dan tsunami
Masyarakat kuno meyakini terjadinya planet sejajar ini akan menimbulkan dampak seperti gelombang besar, bahkan akan terjadi tsunami. Tentunya baru mendengar semua prediksi itu, sudah membuat merinding dan merasa takut.

Untuk diketahui, tarikan gravitasi dari semua planet memang dapat berdampak pada pasang surut di Bumi. Namun, fenomena planet sejajar tidak berbahaya. Jarak Venus dari Bumi berdampak pada gaya pasang surut terbesar, meskipun hanya sebagian kecil dibandingkan dengan Bulan. Pesawat ruang angkasa juga dapat merasakan kekuatan yang sangat kecil saat gravitasi dari planet menariknya.

Segala sesuatu yang terjadi pastinya atas kehendak Tuhan, untuk itu tidak perlu takut berlebihan saat mendengar fenomena planet sejajar dan dampaknya.

Secara ilmiah pun, menurut NASA, ini adalah peristiwa alam. Pada 2013, Badan antariksa Amerika Serikat itu pernah mengatakan tidak akan ada peristiwa planet sejajar dalam beberapa dekade mendatang. Kalaupun terjadi, dampak kesejajaran planet ini kepada Bumi tidak berbahaya.

"Fenomena besar planet sejajar terjadi di 1962 contohnya, dan dua lainnya terjadi pada 1982 dan 2000. Setiap Desember, Bumi dan Matahari sejajar dengan pusat Galaksi Bima Sakti, dan ini adalah peristiwa tahunan yang tidak membahayakan Bumi," ujarnya.

Friday, June 24, 2022

Friday, June 24, 2022

Fenomena Planet Sejajar 24 Juni 2022, Subuh Nih!


Negaratoto - Sejak awal Juni, masyarakat dapat menyaksikan fenomena langka, di mana planet Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus berada pada konfigurasi segaris alias planet sejajar. Nah, subuh 24 Juni nanti adalah waktu yang dianggap paling oke untuk menyaksikannya.

Peneliti Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang mengungkapkan konfigurasi atau parade langit ini sudah bisa dinikmati dini hari mulai tanggal 4 Juni 2022. Fenomena langka ini akan terus berlanjut sampai akhir Juni 2022 dalam beberapa kali konfigurasi.

Konfigurasi pertama terdiri dari sejajarnya Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada 4-15 Juni 2022.

Selanjutnya, diikuti dengan konfigurasi kedua dengan susunan planet Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, Saturnus, dan Bulan pada 16-27 Juni 2022.

Lalu, diakhiri dengan konfigurasi dengan susunan yang sama dengan pertama, yakni Merkurius, Venus, Uranus, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada 28-30 Juni 2022.

Nah, formasi sejajar dari kelima planet dan Bulan itu akan tampak paling sempurna pada 23-24 Juni. Jadi bisa disaksikan pada besok subuh ini.


Andi menjelaskan, fenomena konfigurasi planet sejajar ini dapat disaksikan selama kurang lebih 50 menit sesuai dengan waktu fajar masing-masing wilayah. Mulai dari awal fajar astronomis dengan ketinggian Matahari -18° atau 75 menit sebelum matahari terbit (sekitar pukul 04.30 waktu setempat), hingga fajar bahari, di mana ketika ketinggian Matahari -6° atau 25 menit sebelum matahari terbit (sekitar pukul 05.30 waktu setempat).

"Sejak 4 hingga 30 Juni, Merkurius akan memiliki kecerlangan yang bervariasi antara +2,06 hingga -0,61. Hal ini menunjukkan bahwa Merkurius akan semakin terang sampai di pengujung bulan Juni. Sedangkan untuk Venus bervariasi, antara -3,94 hingga -3,89, yang artinya akan sedikit redup pada akhir Juni," jelas Andi.

"Sementara itu, Uranus bervariasi antara +5,89 hingga +5,87, yang artinya Uranus akan sedikit lebih terang pada akhir Juni. Serupa dengan Mars, Jupiter, dan Saturnus yang berturut-turut bervariasi, antara +0,57 hingga +0,47, -2,25 hingga -2,41, dan +0,68 hingga +0,56," beber Andi.

Bisa dilihat langsung, kecuali Uranus

Andi mengatakan, semua fenomena ini dapat disaksikan tanpa menggunakan alat bantu optik, kecuali Uranus.

"Hal ini disebabkan karena kecerlangannya lebih besar +4,7 dari batas magnitude visual maksimum bagi wilayah perkotaan, sehingga diperlukan teleskop kecil berdiameter 10-25 cm agar dapat menyaksikan Uranus," ungkapnya.

Andi menambahkan, untuk dapat melihat fenomena ini dapat disaksikan selama cuaca cukup cerah, bebas dari polusi cahaya dan medan pandang yang bebas dari penghalang.

Bahkan, bagi wilayah yang polusi cahayanya nyaris tidak ada (kondisi langit benar-benar bersih), Uranus dapat disaksikan tanpa menggunakan teleskop karena kecerlangan lebih kecil dari +6,5. Jadi jangan lewatkan fenomena planet sejajar subuh ini.

Thursday, June 16, 2022

Thursday, June 16, 2022

Inti Bumi Goyang, Durasi Satu Hari Berubah Tiap 6 Tahun


Negaratoto - Inti dalam Bumi berosilasi, bergoyang lembut dan berputar-putar dari satu arah ke arah lain dalam siklus enam tahun. Menurut penelitian terbaru, aktivitas ini memengaruhi panjang hari di planet kita.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Science Advances, teori baru tentang cara kerja bagian dalam Bumi ini bertentangan dengan gagasan sebelumnya tentang lapisan geologis. Studi sebelumnya menyebutkan, lapisan geologis terdalam planet berputar bersama bagian planet lainnya dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dibandingkan bagian permukaan.

Dikutip dari IFL Science, Kamis (16/6/2022) inti dalam Bumi berwujud bola merah panas dari besi padat yang dikelilingi oleh inti luar yang cair, kemudian mantel, lalu kerak Bumi.

Pada tahun 1990-an, penelitian menunjukkan bahwa sudut dalam Bumi mengalami rotasi super, di mana inti dalam berputar sedikit lebih cepat daripada bagian planet lainnya. Teori ini didukung oleh penelitian yang mempelajari gelombang yang dihasilkan dari uji coba bom nuklir bawah tanah yang dilakukan oleh Uni Soviet sekitar tahun 1971 hingga 1974 di kepulauan Novaya Zemlya, Rusia utara.

Dalam studi terbaru, para ilmuwan dari University of Southern California (USC) menggunakan metodologi yang sama untuk mempelajari sepasang tes atom bawah tanah sebelumnya di bawah Pulau Amchitka di ujung kepulauan Alaska pada tahun 1969-1971.

Anehnya, hasilnya menunjukkan bahwa inti bagian dalam bergerak perlahan ke arah yang berbeda antara tahun 1969-1971, diketahui sub-rotasi setidaknya sepersepuluh derajat per tahun, dibandingkan dengan arah pergerakannya antara tahun 1971-1974.


"Dari temuan kami, kami dapat melihat pergeseran permukaan Bumi dibandingkan dengan inti dalamnya, seperti yang telah dinyatakan orang selama 20 tahun," kata John E Vidale, rekan penulis studi dan Dekan Profesor Ilmu Bumi di USC Dornsife College of Letters, Arts and Sains.

Ia menyebutkan, pengamatan terbaru mereka menunjukkan bahwa inti dalam berputar sedikit lebih lambat dari 1969-1971, kemudian bergerak ke arah lain dari 1971-1974.

"Inti bagian dalam tidak tetap itu bergerak di bawah kaki kita, dan tampaknya akan bolak-balik beberapa kilometer setiap enam tahun," tambah Vidale.

Cara kerja bagian dalam planet kita juga memiliki pengaruh kecil namun signifikan terhadap lamanya hari di Bumi. Kita sering menganggap hari-hari di Bumi berlangsung secara konstan. Nyatanya, hari-hari yang kita lalui dapat mengalami variasi yang cukup banyak. Sekitar 300 juta tahun yang lalu, misalnya, satu hari di Bumi akan berlangsung sekitar 21 jam. Bahkan, lamanya hari bisa bervariasi dalam waktu satu dekade.

Panjang hari ditentukan oleh kecepatan rotasi planet. Ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, tetapi diyakini terkait dengan perubahan medan magnet Bumi, yang dihasilkan di inti bumi.

Studi baru mencatat bahwa panjang hari tumbuh dan menyusut seperti yang mereka prediksi, plus atau minus 0,2 detik setiap enam tahun, berdasarkan perubahan di dalam inti dalam Bumi.

Namun, masih banyak pertanyaan yang tersisa. Banyak dari penelitian ini dimungkinkan melalui data yang diungkapkan oleh uji coba nuklir bawah tanah. Karena jumlah uji coba nuklir telah menurun secara signifikan sejak Perang Dingin, data ini menjadi semakin langka dan para ilmuwan terpaksa bekerja dengan data gempa yang relatif tidak akurat.

Namun demikian, para peneliti tertarik untuk menggali lebih dalam misteri arsitektur bagian dalam Bumi untuk lebih memahami bagaimana dan mengapa inti Bumi berperilaku dengan cara yang aneh.

"Salah satu pertanyaan yang kami coba jawab adalah, apakah inti dalam bergerak secara progresif atau sebagian besar terkunci dibandingkan dengan yang lainnya dalam jangka panjang? Kami mencoba memahami bagaimana inti dalam terbentuk dan bagaimana ia bergerak seiring waktu. Ini adalah langkah penting dalam memahami proses ini dengan lebih baik," tutup Vidale.

Tuesday, June 7, 2022

Tuesday, June 07, 2022

Bukan UFO, Alien Mungkin Tumpangi Planet untuk Jelajahi Antariksa


Negaratoto - Selama ini, teori soal kedatangan alien pasti dibarengi dengan kehadiran UFO sebagai kendaraannya. Kini, seorang peneliti mengajukan teori baru yang cukup mengejutkan yaitu alien bisa saja menumpang planet yang mengambang bebas untuk menjelajahi antariksa.

Konsep 'penumpang kosmik' ini merupakan hasil pemikiran Irina Romanovskaya, seorang dosen fisika dan astronomi di Houston Community College, lewat studinya yang diterbitkan di International Journal of Astrobiology.

"Hampir 10 tahun yang lalu, ketika membaca tentang penemuan planet yang mengambang bebas, saya memikirkan skenario hipotetis tentang planet yang mengambang bebas mendekati Tata Surya," kata Romanovskaya, seperti dikutip dari Vice, Senin (6/6/2022).

"Tidak ada lampu lintas di galaksi. Jika Tata Surya kebetulan berada di tengah jalan planet yang mengambang bebas, planet itu tidak akan berhenti di lampu merah. Planet itu akan terbang melewati Tata Surya. Kemungkinan terjadinya event seperti itu akan bergantung pada berapa banyak planet mengambang bebas di galaksi kita, yang saat itu masih dalam estimasi," sambungnya.


Kini, ilmuwan memperkirakan ada puluhan miliar planet yang mengambang bebas karena keluar dari sistem bintangnya akibat interaksi dengan objek lainnya. Planet-planet seperti ini sulit ditemukan karena tidak ada cahaya dari bintang di dekatnya untuk meneranginya.

Romanovskaya mengatakan planet-planet ini mungkin masih bisa dihuni, terutama jika memiliki lautan di bawah permukaan. Planet seperti ini memang diperkirakan ada di tata surya kita.

Planet juga memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan pesawat biasa seperti UFO yang harus dibangun dengan susah payah oleh alien penjelajah luar angkasa. Romanovskaya mengatakan planet sudah memiliki sumber daya alam seperti air dan logam berharga yang bisa mentenagai perjalanan ini.

Habitat alami di planet ini juga bisa menjadi tameng yang efektif untuk menangkal radiasi di luar angkasa, dan gravitasi yang sudah ada bisa membuat alien tidak perlu mengembangkan gravitasi buatan.

Romanovskaya juga memberikan cara untuk mencari alien yang mungkin mengikuti perjalanan antar planet seperti ini. Misalnya dengan mencari tanda radiasi elektromagnetik tidak biasa di sekitar planet yang mengambang bebas.

Spesies alien yang sudah memahami perjalanan seperti ini juga bisa saja meninggalkan 'technosignatures' dalam rutenya, di mana jejak ini bisa diikuti dan diidentifikasi dari Bumi.

Teleskop James Webb yang baru diluncurkan juga bisa mendeteksi radiasi inframerah, yang mungkin saja dipancarkan oleh planet mengambang bebas yang sudah diubah oleh alien menjadi pesawat luar angkasa.

Tidak hanya peradaban alien, Romanovskaya mengatakan teori seperti ini juga bisa diterapkan oleh manusia di Bumi. Jika suatu saat matahari sudah mulai sekarat, manusia bisa saja mencegat planet yang lewat dan menumpanginya untuk menuju kehidupan yang baru.

"Beberapa populasi manusia mungkin juga memutuskan untuk pindah ke sistem planet lain untuk memperluas kehadiran peradaban kita di galaksi. Atau, manusia dapat mengirim sejumlah besar teknologi untuk menjelajahi bintang dan ruang luar angkasa," pungkasnya.

Saturday, June 4, 2022

Saturday, June 04, 2022

Kacau! Orbit Pluto Beda dengan Planet Tetangganya


Negaratoto - Pluto, yang kini dianggap sebagai planet kerdil, menjadi topik yang menarik bagi banyak ilmuwan karena eksentrik dan misterius. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orbit Pluto relatif stabil dalam rentang waktu yang lebih lama, tetapi tunduk pada kekacauan dan perubahan dalam rentang waktu yang lebih pendek.

Dibutuhkan 248 tahun Bumi bagi Pluto untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi Matahari. Lintasan orbitnya tidak terletak pada bidang yang sama dengan kedelapan planet tetangganya, melainkan condong pada sudut 17°. Orbit Pluto yang tidak biasa juga lebih berbentuk oval atau elips daripada planet-planet lain.

Studi ini dilakukan oleh Dr Renu Malhotra, Profesor Riset Sains Louise Foucar Marshall di Lunar and Planetary Laboratory (LPL) University of Arizona, dan Takashi Ito, seorang profesor di Chiba Institute of Technology's Planetary Exploration Research Center (PERC) dan National Astronomical Observatory of Japan's (NAOJ) Center for Computational Astrophysics.

Para ilmuwan menunjukkan bahwa arsitektur orbit planet-planet raksasa terletak dalam ceruk sempit di mana orbit mirip Pluto praktis stabil pada skala waktu giga tahun, sedangkan orbit di dekatnya sangat kacau.

Banyak simulasi orbit masa lalu dan masa depan Pluto telah menemukan karakteristik mengejutkan yang mencegah Pluto bertabrakan dengan Neptunus.

"Ini adalah kondisi resonansi orbit yang dikenal sebagai 'resonansi gerak rata-rata'," kata Dr. Malhotra dikutip dari Universe Today, Sabtu (4/6/2022).


Kondisi ini memastikan bahwa ketika Pluto berada pada jarak heliosentris yang sama dengan Neptunus, garis bujurnya hampir 90 derajat dari Neptunus.

Belakangan, sifat aneh lain dari orbit Pluto ditemukan: Pluto mencapai perihelion di lokasi yang jauh di atas bidang orbit Neptunus. Ini adalah jenis resonansi orbital yang berbeda yang dikenal sebagai "Osilasi vZLK". Singkatan ini mengacu pada von Zeipel, Lidov, dan Kozai, yang mempelajari fenomena ini sebagai bagian dari "masalah tiga benda."

Para ilmuwan menggunakan simulasi numerik orbit Pluto hingga lima miliar tahun ke depan Tata Surya untuk penelitian mereka. Khususnya, mereka berharap bisa menjawab pertanyaan yang belum terselesaikan tentang orbit aneh Pluto dan objek seukuran Pluto lainnya.

Studi sebelumnya yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan teori-teori baru, sangat terbatas keberhasilannya. Dalam hipotesis ini, Pluto ditarik ke dalam resonansi gerak rata-ratanya saat ini oleh Neptunus, yang bermigrasi selama sejarah awal Tata Surya.

Teori ini memprediksi bahwa Objek Trans-Neptunus (TNO) lainnya akan memiliki kondisi resonansi yang sama seperti Plutino, yang telah dikonfirmasi dengan menemukan sejumlah besar Plutino. Sebagai hasil dari gagasan ini, ide migrasi planet sekarang lebih diterima secara luas.

Jauh di luar itu, studi ini memiliki implikasi yang signifikan untuk studi masa depan Tata Surya luar dan dinamika orbitnya. Studi lebih lanjut dapat membantu para astronom mempelajari lebih lanjut tentang sejarah migrasi planet-planet raksasa dan bagaimana mereka akhirnya menetap di orbitnya saat ini.

Penelitian ini juga dapat mengarah pada penemuan mekanisme dinamis baru yang akan menjelaskan asal usul orbit Pluto dan benda-benda lain dengan kemiringan orbit tinggi.

Wednesday, May 11, 2022

Wednesday, May 11, 2022

Ditemukan 'Bekas Cakar Raksasa' di Permukaan Mars


Negaratoto - Mars menyimpan begitu banyak misteri yang menarik untuk dipecahkan. Berkat pengembangan robot penjelajah, kita bisa melihat banyak hal di Planet Merah ini.

Dalam rilis terbaru dari pengorbit Mars Express mililk badan antariksa Eropa, ESA, fitur unik geologi Mars ditampilkan dengan detail yang menakjubkan.

Seperti dikutip dari Science Alert, gambar terbaru Mars menampilkan fitur yang tampak seperti bekas cakar raksasa di permukaan planet ini. Alurnya merupakan bagian dari sistem patahan raksasa di Mars yang dikenal sebagai Tantalus Fossae.

Selain detail pada gambar, yang benar-benar mengejutkan adalah skala yang terlihat. Palung ini memiliki kedalaman hingga 350 meter dan lebar 10 kilometer, serta membentang hingga 1.000 kilometer.

Gambar tersebut adalah warna asli, yang berarti mewakili apa yang akan dilihat manusia jika mereka melihat wilayah tersebut dengan mata kepala sendiri.

Secara teknis, ini adalah gambar yang dihasilkan dari model medan digital Mars dan menggunakan saluran warna High Resolution Stereo Camera pada Mars Express. Tetapi gambar ini menyajikan pemandangan yang sangat jelas dari area yang luas.


Gambar di atas menunjukkan perspektif miring, sedangkan gambar di bawah adalah tampilan Tantalus Fossae dari atas ke bawah.

Menurut siaran pers ESA, resolusi tanah dari gambar-gambar ini kira-kira 18 meter/piksel dan gambar-gambar tersebut dipusatkan pada sekitar 43°LU/257°BT. Utara adalah ke kanan.

Fossa adalah cekungan atau depresi, dan Tantalus Fossae membentang di sepanjang sisi timur gunung berapi Mars yang relatif datar dan luas yang disebut Alba Mons.

Dalam hal luas permukaan, Alba Mons adalah gunung berapi terbesar di Mars, dengan medan aliran vulkaniknya membentang setidaknya 1.350 km. Namun pada titik tertingginya, ketinggiannya hanya 6,8 kilometer.

Fossa ini tercipta ketika Alba Mons terangkat dari kerak planet, menyebabkan area di sekitarnya menjadi bengkok dan pecah.

"Patahan Tantalus Fossae adalah contoh yang bagus dari fitur permukaan yang dikenal sebagai grabens. Setiap parit terbentuk ketika dua sesar paralel terbuka, menyebabkan batu di antara itu jatuh ke dalam rongga yang dihasilkan," jelas rilis tersebut.

Fitur serupa ditemukan di sisi barat Alba Mons, yang dikenal sebagai Alba Fossae. Gambar-gambar ini tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi jugamembantu kita memahami lebih banyak tentang bagaimana permukaan Mars terbentuk.

Diperkirakan struktur ini tidak semuanya terbentuk sekaligus, tetapi satu demi satu, yang menghasilkan beberapa palung yang saling bersilangan.

Misalnya, kawah tumbukan yang kalian lihat di gambar memiliki graben yang melintasinya, menunjukkan bahwa kawah itu ada terlebih dahulu. Di dua gambar teratas, kalian dapat melihat kawah yang lebih kecil di sebelah kiri yang berada di atas palung dan kemungkinan lebih muda.

Mars Express telah mengorbit Mars selama lebih dari 18 tahun hingga sekarang. Para ilmuwan berharap dapat melihat lebih banyak lagi pemandangan unik planet tetangga kita itu.

Friday, April 22, 2022

Friday, April 22, 2022

Elon Musk Ungkap Penderitaan Para Calon Warga Planet Mars

Negaratoto - Bukan rahasia lagi kalau Elon Musk terobsesi untuk kolonisasi Planet Mars, bahkan membangun kota di sana. Dalam konferensi TED, Elon pun berbicara mengenai nasib para warga pertama Planet Mars nantinya.

Seperti dikutip dari New York Post, Elon Musk memperingatkan bahwa koloni pertama di Mars jangan dulu berharap gaya hidup mewah atau nyaman.

"Sangat penting untuk menekankan bahwa Mars, terutama pada masa awal, tidak akan mewah. Di sana akan berbahaya, padat, sulit, perlu kerja keras," kata nakhoda perusahaan SpaceX dan Tesla ini.

"Promosi penjualan untuk pergi ke Mars adalah ini berbahaya, sempit, mungkin kalian tidak bisa kembali (ke Bumi). Ini sesuatu yang sulit, perlu kerja keras. Begitulah, tapi itu akan megah," cetusnya lagi.


Untuk ke Mars, SpaceX di bawah komando Musk telah membangun roket bernama Starship. Ia optimistis, dalam beberapa bulan lagi Starship sudah bisa uji coba peluncuran ke orbit.

"Candaan yang selalu kusampaikan adalah, yang bisa digaransi adalah kegembiraan. Sukses tidak digaransi, tapi kegembiraan tentu bisa," cetus Elon Musk.

Pada tahun silam, manusia terkaya di dunia ini memprediksi bahwa umat manusia bisa tiba di Planet Mars dalam waktu 10 tahun. Namun memang butuh waktu lebih lama untuk membangun koloni yang bisa berfungsi.

Ia kerap berbicara bahwa manusia perlu menjadi spesies antar planet, tak terpaku untuk tinggal di Bumi. Itu karena planet ini berpotensi menghadapi bahaya besar.

"Kupikir penting untuk memaksimalkan usia kesadaran manusia. Peradaban manusia bisa berakhir karena alasan-alasan eksternal, seperti meteor raksasa, (letusan) gunung berapi super atau perubahan iklim ekstrem atau Perang Dunia III, atau juga alasan-alasan lainnya," tutur Elon Musk.