Breaking

Showing posts with label Pandemi. Show all posts
Showing posts with label Pandemi. Show all posts

Saturday, October 22, 2022

Saturday, October 22, 2022

Update Covid-19 di Indonesia Hari Ini 22 Oktober, Kasus Positif Bertambah 2.087

 

NEGARATOTOIndonesia mencatat 2.087 kasus positif baru Covid-19 pada Sabtu (22/10) sehingga jumlah kasus yang terkonfirmasi menjadi 6.469.276 kasus.
Adapun kasus aktif turun 239 sehingga terdapat 18.919 orang yang masih dirawat atau isolasi. Selain itu, tercatat juga penambahan 2.308 orang sembuh dan 18 meninggal.

Sebagai upaya untuk mengendalikan Covid-19, upaya vaksinasi terus digalakkan.

Per Sabtu (22/10), jumlah yang mendapatkan vaksin dosis pertama adalah 16.575 sehingga total yang sudah mendapatkan vaksin 1 adalah 205.088.011. Maka dari itu, sudah 87,4 persen dari target sasaran yang telah melakukan vaksinasi.

Untuk dosis 2, tercatat sudah 73,2 persen dari target vaksin yang mendapatkan dosis 2. Angka tersebut juga setara dengan 171.776.852 orang. Adapun yang mendapatkan vaksin dosis kedua pada hari ini sebanyak 25.010.

Vaksin 3 atau booster juga digencarkan. Total terdapat 64.759.696 orang yang sudah divaksin booster. Per Sabtu (22/10) yang baru mendapatkan suntikkan dosis tiga berjumlah 63.999. Berarti, baru 27,6 persen yang mendapatkan vaksin dosis 3.

Saturday, July 2, 2022

Saturday, July 02, 2022

900 Mikroba Terkubur di Gletser Tibet, Bisa Timbulkan Pandemi Baru


Negaratoto - Ilmuwan menemukan lebih dari 900 spesies mikroba yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Ratusan mikroba baru itu ditemukan di gletser di dataran tinggi Tibet, dan berpotensi menyebabkan pandemi baru jika es mencair dan terpapar ke dunia luar.

Dalam studi terbaru, peneliti dari Chinese Academy of Sciences mengambil sampel es dari 21 gletser di dataran tinggi Tibet, sebuah area yang dihimpit oleh Pegunungan Himalaya dan Gurun Taklamakan.

Setelah melakukan genome sequencing, tim peneliti menemukan 968 spesies mikroba yang tinggal di dalam es. Sebagian besar merupakan bakteri, tapi ada juga ganggang, archaea, dan jamur.

Yang cukup mengejutkan, 98% dari spesies mikroba yang ditemukan merupakan spesies baru yang belum pernah dilihat sebelumnya. Temuan ini membuat ilmuwan tercengang karena lingkungan gletser yang tidak ramah untuk kehidupan seperti ini.

"Terlepas dari kondisi lingkungan, seperti suhu rendah, tingkat radiasi yang tinggi, siklus pembekuan - pencairan berkala, dan pembatasan nutrisi, permukaan gletser mendukung beragam kehidupan," tulis tim peneliti dalam studinya yang diterbitkan di jurnal Nature Biotechnology, seperti dikutip dari LiveScience, Sabtu (2/7/2022).


Kombinasi antara keberagaman spesies mikroba dan es yang makin cepat mencair karena perubahan iklim membuat ilmuwan khawatir. Pasalnya jika ada bakteri berbahaya yang berhasil keluar bisa saja menyebabkan epidemi lokal hingga pandemi baru.

Dari katalog Tibetan Glacier Genome and Gene (TG2G) yang disusun berdasarkan hasil genome sequencing, peneliti menemukan 27.000 faktor virulensi potensial atau molekul yang bisa membantu bakteri menyerang dan menjajah calon inang.

Ilmuwan memperingatkan bahwa 47% dari faktor virulensi ini tidak pernah dilihat sebelumnya, jadi tidak diketahui seberapa berbahaya bakteri yang terkubur di gletser ini.

Bahkan jika bakteri berbahaya ini tidak bisa bertahan lama setelah keluar dari gletser, mereka masih bisa menyebabkan masalah besar. Pasalnya, bakteri yang sudah mati masih bisa menyebarkan beberapa virulensinya ke bakteri lain yang mereka temui.

Gletser di dataran tinggi Tibet juga berpotensi menjadi sumber pandemi masa depan karena es di wilayah ini mencair dan mengaliri sejumlah sungai besar, termasuk Sungai Yangtze, Sungai Kuning, dan Sungai Gangga. Sungai-sungai ini merupakan sumber air di dua negara terbesar di dunia: China dan India.

Tapi masalah ini tidak hanya mempengaruhi penduduk di Asia. Ada lebih dari 20.000 gletser di seluruh dunia yang kemungkinan memiliki komunitas mikroba uniknya sendiri. Dikombinasikan dengan pencairan es yang semakin cepat akibat perubahan iklim, mikroba-mikroba ini berpotensi menimbulkan pandemi baru jika dibiarkan lolos.

Saturday, July 02, 2022

Wanti-wanti Pandemi Baru, Bank Dunia Setujui Cadangan Dana Kesehatan Global


Negaratoto - Dewan Direktur Bank Dunia telah menyetujui pembentukan Financial Intermediary Fund (FIF) atau Dana Perantara Keuangan yang akan membiayai kesehatan, untuk memperkuat kapasitas Pembiayaan Kesiapsiagaan, Pencegahan, dan Respons (PPR) pandemi di tingkat nasional, regional, dan global, dengan fokus pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Bank Dunia adalah penyedia pembiayaan terbesar untuk PPR pandemi dengan operasi aktif di lebih dari 100 negara berkembang untuk memperkuat sistem kesehatan mereka. FIF akan memberikan tambahan dana jangka panjang untuk mendukung negara dan kawasan berpenghasilan rendah dan menengah bersiap dalam menghadapi pandemi apabila kembali terjadi di masa yang akan datang," kata Presiden Grup Bank Dunia, David Malpass, dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (2/7/2022).

Dana tersebut akan membawa tambahan atas sumber daya khusus untuk PPR pandemi, memberi insentif kepada negara-negara untuk meningkatkan investasi pada PPR pandemi, meningkatkan koordinasi di antara para mitra, dan berfungsi sebagai platform untuk advokasi kesehatan.

Dalam kesempatan terpisah mewakili Finance Deputy G20 Indonesia, Dian Lestari, Kepala Pusat Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Kementerian Keuangan Indonesia mengajak kepada pihak yang belum terlibat agar dapat juga berkontribusi pada FIF

"Kami berharap para anggota G20 maupun non-G20 lain agar dapat berkomitmen untuk berkontribusi dana pada FIF dan bersama mengajak pihak lain untuk juga bersama berkontribusi pada inisiatif global untuk kesehatan yang penting ini." kata Dian.

FIF diharapkan dapat diluncurkan secara formal dan beroperasi pada September 2022. Dalam beberapa minggu mendatang, JFHTF, Bank Dunia dan WHO akan bekerja sama dengan para Donor FIF dan mitra serta para pemangku kepentingan strategis lainnya untuk mengembangkan Kerangka Tata Kelola dan Manual Operasi dari FIF secara terperinci.


"Kepresidenan G20 Indonesia sangat mengharapkan dukungan dan kontribusi dari semua pemangku kepentingan terkait dalam upaya bersama untuk memperkuat arsitektur kesehatan global. Kami percaya bahwa melalui pekerjaan untuk mendirikan FIF ini, kami dapat menunjukkan kepada dunia tentang nilai multilateralisme dalam hal memastikan dunia lebih siap untuk menghadapi pandemi di masa depan." ujar Dian.

Gagasan pembentukan mekanisme pembiayaan kesehatan global awalnya telah mulai dikemukakan oleh Panel Independen Tingkat Tinggi (High Level Independent Panel/HLIP) G20 pada tahun 2021.

Gagasan ini kemudian dieksplorasi oleh para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan di bawah naungan Presidensi G20 Italia, dan puncaknya kemudian dituangkan dalam Deklarasi Roma Pemimpin G20.

Melalui Deklarasi tersebut, para Pemimpin G20 menyepakati untuk membentuk Gugus Tugas Gabungan Keuangan dan Kesehatan (Joint Finance and Health Task Force/JFHTF) yang diketuai bersama oleh Indonesia dan Italia, dan menugaskannya untuk mengembangkan modalitas untuk pembentukan mekanisme pembiayaan baru untuk PPR pandemi selama Kepresidenan G20 Indonesia.

Setelah pembahasan yang ekstensif dan komprehensif oleh Gugus Tugas, pada Pertemuan Menteri Keuangan dan Kesehatan Gabungan G20 di Indonesia pada 21 Juni 2022, para Menteri telah menyatakan dukungan untuk pembentukan FIF di bawah pengelolaan Bank Dunia.

FIF akan melengkapi pembiayaan dan dukungan teknis yang telah diberikan oleh Bank Dunia dengan memanfaatkan keahlian teknis dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dan melibatkan organisasi penting lainnya.

Tujuan FIF
Tujuan FIF adalah menyediakan pembiayaan untuk mengatasi kesenjangan dalam pembiayaan PPR pandemi untuk memperkuat kapasitas negara (domestik) di berbagai bidang seperti pengawasan penyakit, sistem laboratorium, tenaga kerja kesehatan, komunikasi dan manajemen darurat, dan keterlibatan masyarakat.

FIF ini juga dapat membantu mengatasi kesenjangan dalam memperkuat kapasitas regional dan global, misalnya, dengan mendukung berbagi data, harmonisasi peraturan, dan kapasitas untuk pengembangan yang terkoordinasi, pengadaan, distribusi dan penyebaran tindakan pencegahan serta pasokan medis penting.

Komitmen kontribusi sejumlah lebih dari US$ 1 Miliar telah diamankan untuk FIF ini, di mana jumlah tersebut sudah termasuk kontribusi sebesar USD 50 Juta dari Indonesia. Komitmen kontribusi lainnya berasal dari Amerika Serikat, Komisi Uni Eropa, Jerman, Indonesia, Singapura serta Inggris, dan juga donasi dari lembaga filantropis, Wellcome Trust dan The Bill and Melinda Gates Foundation.

Tuesday, June 21, 2022

Tuesday, June 21, 2022

'Liburan ke Jepang Sekarang Rasanya Seperti ke Korea Utara'


Negaratoto - Jepang memang sudah melonggarkan pembatasan internasionalnya. Banyak turis sudah masuk, tapi agak kecewa nih sama Jepang.

Negeri Sakura memberikan peraturan ketat bagi turis yang masuk ke negaranya. Alasannya sederhana, karena mereka ingin pariwisata kembali bergerak, tapi takut Covid-19 menyebar lagi.

Pemerintah Jepang mengatakan bahwa mereka takut, turis yang datang tidak taat dengan peraturan dan menyebabkan kenaikan di fase yang sudah landai ini.

Alhasil, turis yang masuk harus menggunakan agen tur resmi yang sudah di pilih. Mereka tak boleh kemana-mana sendiri dan ditemani oleh pemandu wisata.

Saat berada di luar ruangan, para kelompok turis harus tetap memakai masker. Satu kelompok haruslah menjaga jarak dengan kelompok lain.

Turis yang sudah ke sana mendapat kesan tersendiri. Dilansir dari Bloomberg, tur dengan pemandu wisata ini dicemooh lewat sosial media. Katanya Jepang jadi mirip dengan Korea Utara.


Sedikit informasi, Korea Utara tak mengizinkan turis masuk ke sana tanpa agen travel resmi dari pemerintah. Turis tidak boleh bepergian tanpa pemandu wisata. Ya, sedikit mirip sih ya Jepang yang sekarang dengan Korea Utara.

Tapi tenang saja, ini bukanlah akhir dari pariwisata Jepang. Pemerintah Jepang masih memilih untuk berhati-hati untuk membuah kebijakan.

Beberapa orang mengatakan bahwa Tokyo begitu lamban dalam mengambil keputusan. Namun pemerintah Kota Tokyo sendiri skeptis bahwa turis akan mengikuti peraturan dengan benar.

Hal ini sudah dirasakan oleh Jepang saat Olimpiade Tokyo 2020. Dari pengalaman saat itu, banyak turis datang namun melanggar peraturan. Sehingga Jepang ini meraih pasar baru, yaitu wisatawan domestik.

Warga Tokyo sendiri sudah jengah dengan ramainya jalanan. Kuil-kuil di Kyoto lebih terasa tenang tanpa padatnya turis yang lalu lalang.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan bahwa Jepang harus meningkatkan pariwisata domestik terlebih dahulu. Setelah itu barulah Jepang akan menerima wisatawan internasional.

Tuesday, June 14, 2022

Tuesday, June 14, 2022

Picu Kenaikan COVID-19 di Berbagai Negara, BA.4 dan BA.5 Statusnya Apa?


Negaratoto - Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 telah masuk ke Indonesia. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan ini menjadi salah satu penyebab naiknya kasus COVID-19 akhir-akhir ini.

"Jadi kita konfirmasi bahwa kenaikan ini memang dipicu oleh adanya varian baru. Dan ini juga yang terjadi sama di negara-negara di luar Indonesia," beber Menkes Budi dalam konferensi pers, Senin (13/6/2022).

"Jadi setiap ada varian baru, itu naik (kasus COVID-19)," lanjutnya.

Dikutip dari laman resmi European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), subvarian BA.4 dan BA.5 pertama ditemukan di Afrika Selatan pada Januari dan Februari 2022. Statusnya, menurut ECDC, ditingkatkan dari sebelumnya varian of interest (VoI) menjadi variant of concern (VoC) pada 12 Mei 2022.


Selain itu, ada beberapa fakta lain terkait subvarian BA.4 dan BA.5 yang dikutip dari update ECDC, Selasa (14/6/2022):

1. Varian BA.4 dan BA.5 ini diprediksi menjadi dominan di seluruh Eropa dalam beberapa minggu mendatang.

2. Peningkatannya tergantung pada dua faktor, yaitu:
- Perlindungan kekebalan terhadap infeksi yang dipengaruhi oleh waktu dan cakupan vaksinasi COVID-19.
- Tingkat, waktu, dan landscape varian gelombang pandemi SARS-CoV-2 sebelumnya.

3. Berdasarkan data terbatas, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa BA.4 dan BA.5 meningkatkan keparahan infeksi dibandingkan varian BA.1 dan BA.2 yang beredar.

4. Namun, harus diwaspadai kemungkinan adanya peningkatan kasus COVID-19 yang bisa mengakibatkan peningkatan rawat inap dan ICU pada mereka yang berusia di atas 60 atau 65 tahun, hingga risiko kematian.

5. Masih dikumpulkan data terkait efektivitas obat monoclonal antibodies (mAb) pada BA.4 dan BA.5. Tetapi sejauh ini nampaknya efeknya sedikit menurun atau tetap saja.

Sementara itu, organisasi kesehatan dunia WHO mengkategorikan varian Omicron atau B.1.1.529 ke dalam Variant of Concern (VoC) sejak 26 November 2021, setelah sebelumnya ada di kategori Variant under Monitoring (VUM). Di dalamnya, tercakup subvarian BA.1, BA.2, BA.3, BA.4, BA.5, dan juga subvarian rekombinan Omicron XE.

Secara khusus, WHO mengelompokkan juga subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ke dalam kategori VOC lineages under monitoring (VOC-LUM).

Tuesday, May 31, 2022

Tuesday, May 31, 2022

Virus Hendra Dinilai Bakal Jadi Pandemi Selanjutnya, Simak Gejala Dan Penularannya

 

Belakangan Muncul Wabah Hingga Virus Baru Yang Menjadi Kekhawatiran Dunia, Mulai Dari Wabah Cacar Monyet, Hingga Terbaru Virus Hendra. Bahkan Virus Hendra Disebut Bisa Menjadi Pandemi.

NEGARATOTO - Belum usai dengan permasalahan pandemi COVID-19, kini dunia kembali dihebohkan dengan kemunculan virus baru. Adapun virus baru itu adalah Hendra virus (HeV).

Sebagai informasi, HeV sendiri pertama kali ditemukan pada tahun 1994 silam. Virus tersebut ditemukan dari spesimen yang diperoleh selama wabah penyakit pernapasan dan neurologis pada kuda dan manusia di Hendra, pinggiran kota Brisbane, Australia.

Para peneliti di Griffith University Australia menyebut bahwa varian dari virus Hendra itu bisa menular ke manusia. Selain itu, virus tersebut juga terdeteksi di urine kelelawar berkepala hitam dan abu-abu yang menyebar di Australia, wilayah federal New South Wales hingga Queensland.

Salah seorang ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa virus Hendra dinilai memiliki potensi menjadi pandemi sama halnya dengan virus nipah. Meski demikian, virus Hendra disebut sangat jarang dikabarkan menjangkiti manusia, hanya ada tujuh kasus di dunia sejak tahun 2013 lalu.

Meski demikian, Dicky menuturkan bahwa hal tersebut memunculkan kekhawatiran ketika varian baru virus Hendra ditemukan di Australia. Virus ini disebut lebih sering ditemukan pada akhir Mei hingga akhir Agustus, namun penularannya diyakini bisa terjadi di semua musim.

Adapun gejala virus Hendra itu biasanya muncul pada 5 hingga 21 hari setelah kontak erat dengan hewan yang terinfeksi. Gejalanya pun meliputi demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala dan kelelahan.

Sementara untuk gejala jika infeksi tersebut sudah parah adalah meningitis atau ensefalitis (radang otak), kejang-kejang, dan koma. Sedangkan untuk cara penularan virus Hendra adalah terjadi apabila seseorang memiliki kontak erat dengan kuda, seperti melalui paparan cairan (termasuk droplet) tubuh kuda yang terinfeksi dan melakukan otopsi kuda tanpa alat pelindung yang sesuai.

Pemimpin penelitian Alison Peel dari Pusat Kesehatan dan Keamanan Pangan melalui keterangan resmi dalam situs Griffith University pada awal pekan mengatakan bahwa hasil studi yang dilakukannya dengan meneliti spesies kelelawar tertentu menunjukkan bagaimana varian virus Hendra menular ke kuda dan manusia.


Monday, May 16, 2022

Monday, May 16, 2022

Kim Jong-Un Kritik Negara Sendiri Soal Respons Atasi Pandemi Corona!


Negaratoto - Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un mengkritik keras respons pandemi virus Corona (COVID-19) di negaranya sendiri. Dia juga memerintahkan tentara Korut membantu penyaluran obat setelah sedikitnya 50 orang dilaporkan tewas sejak negara ini mendeteksi wabah Corona pertama di wilayahnya.

Seperti dilansir AFP, Senin (16/5/2022), media pemerintah Korut melaporkan bahwa lebih dari 1 juta orang jatuh sakit dengan apa yang disebut Korut sebagai 'demam' meskipun Kim Jong-Un telah memerintahkan lockdown nasional untuk memperlambat penyebaran Corona di tengah populasi yang tidak divaksinasi.

Sebagai pertanda betapa seriusnya situasi, Kim Jong-Un dilaporkan 'mengkritik keras' para pejabat kesehatan Korut atas apa yang disebutnya sebagai 'respons pencegahan epidemi yang gagal' -- khususnya kegagalan dalam menjaga apotek buka 24 jam untuk menyalurkan obat-obatan.

Kim Jong-Un disebut memerintahkan militer Korut untuk mulai bekerja dalam 'menstabilkan segera pasokan obat-obatan di Pyongyang' yang menjadi lokasi terdeteksinya varian Omicron pekan lalu.


Sejak Korut melaporkan kasus pertama Corona, Kim Jong-Un menempatkan dirinya di pusat respons pandemi, dengan mengawasi rapat darurat Politburo yang digelar hampir setiap hari. Dia menyebut kemunculan wabah Corona di Korut telah memicu 'pergolakan besar'.

Kantor berita Korut, Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa Kim Jong-Un menyebut kegagalan penyaluran obat-obatan secara tepat disebabkan 'karena para pejabat kabinet dan sektor kesehatan publik yang bertanggung jawab atas pasokan (obat) tidak menyingsingkan lengan baju mereka, tidak memahami krisis terkini secara benar'.

Menurut KCNA, Kim Jong-Un yang telah menginspeksi apotek-apotek setempat 'mengkritik keras kabinet dan sektor kesehatan publik atas sikap kerja mereka yang tidak bertanggung jawab'.

Kim Jong-Un juga disebut mengkritik penyimpangan dalam pengawasan hukum secara resmi dan mencermati 'sejumlah fenomena negatif dalam penanganan dan penjualan obat secara nasional'.

Hingga Minggu (15/5) waktu setempat, KCNA melaporkan total 50 orang tewas, dengan sebanyak 1.213.550 kasus 'demam' tercatat di Korut dan lebih dari setengah juta orang kini menerima perawatan medis.

Korut telah mempertahankan blokade Corona sejak pandemi mencuat, namun dengan wabah varian Omicron merajalela di negara-negara tetangganya, para pakar menilai tidak bisa dihindari bahwa COVID menyelinap masuk.

Para pakar juga menambahkan bahwa Korut memiliki salah satu sistem layanan kesehatan terburuk di dunia, dengan rumah-rumah sakit tidak memiliki peralatan medis yang lengkap dengan hanya beberapa unit perawatan intensif dan tidak ada obat perawatan COVID atau kemampuan tes Corona massal.

Friday, May 13, 2022

Friday, May 13, 2022

Korea Utara Laporkan 6 Kematian Akibat Demam Sehari Setelah Umumkan Kasus Pertama COVID-19

 

Pada Kamis (12/5) Kemarin, Korea Utara Melaporkan Kasus Pertama COVID-19. Namun Satu Hari Setelah Melaporkan Kasus Pertama, Korut Menyampaikan Ada Enam Orang Yang Meninggal Akibat Demam.

NEGARATOTO - Korea Utara (Korut) sebelumnya telah melaporkan kasus pertama COVID-19 setelah bertahan selama lebih dari dua tahun pada klaim yang diragukan secara luas. Presiden Kim Jong Un pun pada Kamis (12/5), langsung memberlakukan penguncian nasional atau lockdown.

Kemudian satu hari setelah melaporkan kasus pertama COVID-19, pada Jumat (13/5) hari ini, Korut mengatakan bahwa enam orang meninggal dan 350 ribu orang telah dirawat karena demam yang telah menyebar "secara eksplosif" di seluruh negeri.

Sementara itu, untuk skalanya disebut tidak jelas, tetapi wabah COVID-19 yang besar dapat menghancurkan negara dengan sistem perawatan kesehatan yang rusak dan populasi yang kekurangan gizi dan tidak divaksinasi. Korut disebut kemungkinan tidak memiliki tes COVID-19 yang memadai dan peralatan medis lainnya, mengatakan tidak mengetahui kasus demam massal tersebut.

Di samping itu, kantor berita resmi Korea Utara mengatakan dari 350 ribu orang yang menderita demam sejak akhir April, 162.200 telah pulih. Lalui disebutkan 18 ribu orang baru ditemukan dengan gejala demam pada Kamis saja, dan 187.800 orang diisolasi untuk perawatan.

KCNA mengatakan bahwa satu dari enam orang yang meninggal dipastikan terinfeksi varian Omicron, namun tidak segera jelas berapa banyak dari total penyakit itu adalah COVID-19. Sementara itu, laporan-laporan yang beredar mengatakan tes dari sejumlah orang yang tidak ditentukan hasilnya positif untuk varian Omicron.

Sementara itu, diduga ada kemungkinan penyebaran virus dipercepat oleh parade militer besar-besaran di Pyongyang pada 25 April lalu, di mana pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menjadi pusat perhatian dan memamerkan rudal paling kuat dari program nuklir militernya di depan puluhan ribu orang.

Beberapa ahli diketahui mengatakan bahwa pengumuman awal Korea Utara mengomunikasikan kesediaan untuk menerima bantuan dari luar. Hal ini sebelumnya menghindari vaksin yang ditawarkan oleh program distribusi COVAX yang didukung PBB, mungkin karena mereka memiliki persyaratan pemantauan internasional.

Kementerian Unifikasi Korsel, yang menangani urusan antar-Korea, mengatakan bahwa Korea Selatan bersedia memberikan bantuan medis dan bantuan lain kepada Korut berdasarkan pertimbangan kemanusiaan.

KCNA mengungkapkan bahwa Kim Jong Un telah diberi pengarahan tentang demam ketika mengunjungi markas besar pencegahan epidemi darurat pada hari Kamis dan mengkritik para pejabat karena gagal mencegah "titik rentan dalam sistem pencegahan epidemi."

"Ini adalah tantangan paling penting dan tugas tertinggi yang dihadapi partai kami untuk membalikkan situasi krisis kesehatan masyarakat segera pada tanggal awal, memulihkan stabilitas pencegahan epidemi dan melindungi kesehatan dan kesejahteraan rakyat kami," jelas Kim dalam keterangan KCNA, dikutip pada Jumat (13/5).

Friday, May 13, 2022

COVID-19 Hingga Hepatitis Belum Usai Kini Hadir Flu Tomat, Ada Di Indonesia?


Belakangan Masyarakat Digegerkan Dengan Kasus Hepatitis Akut Misterius, Di Tengah Pandemi COVID-19 Yang Belum Usai. Belum Selesai Dengan COVID-19 Dan Hepatitis Misterius, Kini Muncul Virus Baru Yakni Flu Tomat.

NEGARATOTO - Tren penurunan kasus COVID-19 di Indonesia tentu saja membawa angin segar bagi masyarakat. Meski terjadi tren penurunan kasus COVID-19, namun pandemi di Indonesia belum berakhir.

Di tengah pandemi COVID-19 ini, belakangan muncul kasus infeksi baru yakni hepatitis akut misterius. Hepatitis akut misterius ini sendiri sudah ditemukan di sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia.

Belum selesai dengan pandemi COVID-19 dan hepatitis akut misterius, terbaru muncul infeksi lain yang disebut dengan flu tomat. Flu ini disebut tengah menyebar di India, sehingga memicu kekhawatiran di Indonesia.

Siti Nadia Tarmizi selaku Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan bahwa flu tomat saat ini tidak terdeteksi di Indonesia. Selain itu, ia menuturkan bahwa Kemenkes juga belum membentuk upaya dalam menangani infeksi flu tomat tersebut.

"Belum ya, (kasus flu tomat di Indonesia," ujar Nadia kepada VIVA, dilihat pada Jumat (13/5).

Sementara berdasarkan informasi yang tertuang dalam The Health Site, flu tomat diketahui telah menyebar ke Kerala dan Tamil Nadu, India. Sekitar 80 anak-anak dilaporkan telah terinfeksi oleh virus tersebut.

Mengetahui situasi tersebut, pejabat kesehatan Karnataka disebut telah menyatakan bahwa negara bagian dalam di India patut siaga tinggi. Selain itu, menurut laporan tersebut, distrik Karnataka yang berdekatan dengan Mangaluru, Udupi, Kodagu, Chamrajnagara dan Mysuru, telah diarahkan untuk mengawasi para pelancong setiap hari dari Kerala.

Di sisi lain, flu tomat disebut sebagai flu yang tidak terindikasi. Flu ini dikategorikan di bawah penyakit virus langka, yang menyebabkan ruam berwarna merah gelap, iritasi kulit dan kemudian dehidrasi parah di antara orang-orang yang terinfeksi.

Disebut sebagai flu tomat lantaran penyakit ini menyebabkan lepuh merah yang terlihat seperti tomat. Berdasarkan laporan yang ada, menunjukkan flu tomat saat ini dominan pada anak-anak yang termasuk dalam kelompok usia di bawah 5 tahun atau kurang.

Dokter diketahui telah menyatakan bahwa anak-anak yang terinfeksi flu tomat itu memiliki gejala seperti lepuh besar berwarna merah, demam tinggi, sakit badan, pembengkakan sendi, dan kelelahan. Sementara ada satu gejala serius yakni dehidrasi parah, di mana menyebabkan kram, masalah kulit, mual, muntah, diare, perubahan warna pada tangan, lutut, bokong, batuk, bersin dan pilek.

Sunday, March 27, 2022

Sunday, March 27, 2022

Kasus Bunuh Diri di Bali Meningkat Selama Pandemi Covid-19

 

NEGARATOTO Kasus bunuh diri di Pulau Bali dari tahun 2020 hingga 2021 mengalami peningkatan. Dari catatan komunitas Love Inside Suicide Awareness (Lisa) Helpline Bali, untuk tahun 2020 ada 64 orang bunuh diri dan di tahun 2021 meningkat dua kali lipat sebanyak 125 orang.

"Kalau melihat dari data selama pandemi Covid-19, memang dua tahun terakhir ada peningkatan. Data resmi dari kepolisian, di 2020 itu 64 orang yang bunuh diri sampai meninggal, di tahun 2021 menjadi 125 (bunuh diri). Itu, kan hampir dua kali lipat," kata salah satu dokter Lisa Helpline Bali, Gusti Rai Wiguna di Denpasar, Bali, Sabtu (26/3).

Selain itu, pihaknya juga mencatat ada sekitar 1.085 warga Bali yang meminta pelayanan terapi gratis secara online selama tahun 2021. Mereka diduga depresi salah satunya karena terimbas pandemi. Lisa Helpline adalah layanan dukungan psikologi gratis.

"Kami menerima dari 1.085 orang untuk terapi di Lisa Hotline karena mengalami gangguan jiwa atau tahun 2021, atau saat pandemi," imbuh Wiguna yang juga Ketua Yayasan Bali Bersama Bisa.

Menurutnya, selain persoalan bunuh diri, ada juga yang mengalami gangguan berat dan kemudian putus obat selama Pandemi Covid-19. Sehingga menimbulkan beban yang lebih besar lagi.

"Dan penurunan kualitas jiwa itu bukan pada orang Bali saja dan ada warga asing. Dan, kami sendiri di Bali Bersama Bisa selama 2021 itu, ada tujuh orang asing (bermacam negara) ada yang mengalami gangguan bipolar, mengalami gangguan depresi yang terlunta-lunta di Bali," ungkapnya.

Sementara untuk di tahun 2022, data bunuh diri belum ada karena data tersebut dikumpulkan dalam satu tahun sekali. Namun bila melihat pemberitaan sudah ada sekitar tujuh orang yang bunuh diri di Bali.

"Kalau 2022 belum, tetapi kita lihat seminggu ini ada tujuh paling tidak yang masuk berita dalam seminggu ini. Dan itu, juga bervariasi umurnya ada yang sudah lansia, dan profesinya macam-macam. Artinya, risiko bunuh diri bisa terjadi kepada semua orang," ujarnya.

Sementara, untuk penyebab bunuh diri menurutnya tidak ada faktor tunggal. Bukan hanya karena masalah ekonomi atau asmara, namun lebih kompleks.

"Tapi gabungan dari semua (masalah). Faktor luarnya adalah masalah yang mereka hadapi. Kalau, misalnya lansia sebenarnya karena mengalami penyakit kronis jadi kalau BPJS menanggung secara fisik, tetapi rupanya kesehatan jiwanya yang perlu dilakukan. Cuci darah tapi tetap depresi dan meninggalnya bunuh diri," ujarnya.

"Atau kalau usia produktif ada gabungan masalah ekonomi, masalah keluarga, angka perceraian dan perselingkuhan, kan meningkat selama pandemi ini. Termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Jadi gabungan juga faktor kepribadian menghadapi masalah yang belum baik," ujarnya.