Breaking

Showing posts with label Kremlin. Show all posts
Showing posts with label Kremlin. Show all posts

Tuesday, July 5, 2022

Tuesday, July 05, 2022

Jepang Mau Batasi Harga Impor Minyak Rusia, Kremlin: Bakal Ditolak Negara Lain


Negaratoto - Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengusulkan pemberlakuan batas harga terhadap impor minyak Rusia. Nilai yang diusulkan adalah setengah dari harga impor saat ini.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, negara-negara lain kemungkinan tidak setuju dengan usulan Jepang. Menurutnya, Rusia pun perlu menunggu dan mengikuti perkembangan terkait finalisasi proposal tersebut.

"Pernyataan ini, tidak berarti bahwa parameter seperti itu akan disetujui oleh negara lain," kata Peskov dalam konfrensinya, dikutip dari Reuters, Selasa (5/7/2022).


Peskov menambahkan, sejauh ini baru terjadi statement tunggal dari satu pihak. Belum ada keputusan atau langkah yang diambil.

Minggu lalu, pemimpin G7 sepakat menjajaki kemungkinan untuk mengenalkan batasan harga impor terhadap sumber daya Rusia, termasuk minyak.

Pemimpin G7 telah menginstruksikan para menterinya untuk mengevaluasi proposal tersebut. Adapun tujuan dari G7 adalah membatasi sumber daya Rusia yang selama ini dipakai membiayai kampanye militernya di Ukraina.

Namun, Moskow menyebut apa yang dilakukan di Ukraina sebagai operasi militer khusus. Rusia memperingatkan bahwa langkah membatasi pasokan energi bakal menjadi bumerang karena terus melonjaknya harga minyak global.

Saturday, July 2, 2022

Saturday, July 02, 2022

Putin Lebih Dekat ke Jokowi Ketimbang Macron di Kremlin? Ini Sebabnya


Negaratoto - Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko membandingkan pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dengan pertemuan Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Putin dan Jokowi terlihat lebih dekat sedangkan Putin dan Macron terlihat berjarak cukup jauh. Ternyata ini lho sebabnya!

Perbandingan Putin-Jokowi dengan Putin-Macron menjadi pembicaraan warganet di media sosial Twitter sampai hari ini, Sabtu (2/6/2022).

Menurut Budiman dengan akun @budimandjatmiko yang mencuit pada Kamis (30/6) lalu, sejarah yang melatarbelakangi kedua negara juga punya peran dalam sikap Putin. Indonesia adalah negerinya Bung Karno yang menjadi sohib Rusia sejak dulu. Sedangkan Macron berasal dari negaranya Napoleon yang pernah menyerbu Rusia. Imbasnya sampai ke jarak pertemuan di Kremlin: Putin-Jokowi dekat dan Putin-Macron jauh.

"Beda saat menerima Presiden Prancis di meja panjang dengan kursi berjauhan, saat jumpa dengan pak @jokowi, Vlad Putin menerimanya di kursi berdekatan," tulisnya.


Kenapa Macron jauh banget? Ini sebabnya!
Putin menemui Jokowi di Kremlin, Moscow, pada 30 Juni kemarin. Kondisi pandemi COVID-19 sudah lumayan mereda. Mereka tidak mengenakan masker.

Keduanya bertatap muka di depan meja kecil seukuran setengah meter saja. Bila tangan Putin dan Jokowi sama-sama diangkat, maka tangan keduanya bisa dengan mudah bertemu.

Namun kondisinya lain saat Putin menemui Macron di Kremlin, Moskow, pada 7 Februari lalu. Saat itu, virus Corona sedang mengamuk di seluruh dunia, varian Delta menjadi biang kerok pagebluk internasional.

Dilansir Reuters, pengamat saat itu terkejut melihat jarak Putin dengan Macron dalam pertemuan kala itu. Mereka terpisah meja sepanjang 4 meter. Ternyata, sebabnya tidak lain dan tak bukan adalah COVID-19. Macron menolak dites oleh Rusia.

Dua sumber yang mengetahui soal protokol kesehatan Macron, mengatakan kepada Reuters bahwa Macron telah diberi pilihan: menjalani tes PCR yang dilakukan oleh otoritas Rusia dan diizinkan untuk mendekati Putin, atau menolak tes dan harus mematuhi aturan jaga jarak yang lebih ketat. Macron tidak mau DNA-nya didapatkan oleh pihak Rusia.

"Kami tahu betul bahwa itu berarti tidak ada jabat tangan dan meja panjang itu. Tetapi kami tidak dapat menerima bahwa mereka mendapatkan DNA presiden," kata salah satu sumber kepada Reuters, merujuk pada masalah keamanan jika pemimpin Prancis itu dites COVID-19 oleh dokter Rusia.

Sumber kedua dalam rombongan Macron mengkonfirmasi bahwa Macron menolak untuk mengikuti tes PCR Rusia. Sumber itu mengatakan Macron telah menjalani tes PCR di Prancis sebelum keberangkatan dan tes antigen yang dilakukan oleh dokternya sendiri di Rusia.

"Kami tahu betul bahwa itu berarti tidak ada jabat tangan dan meja panjang itu. Tetapi kami tidak dapat menerima bahwa mereka mendapatkan DNA presiden," kata salah satu sumber kepada Reuters, merujuk pada masalah keamanan jika pemimpin Prancis itu dites COVID-19 oleh dokter Rusia.

Sumber kedua dalam rombongan Macron mengkonfirmasi bahwa Macron menolak untuk mengikuti tes PCR Rusia. Sumber itu mengatakan Macron telah menjalani tes PCR di Prancis sebelum keberangkatan dan tes antigen yang dilakukan oleh dokternya sendiri di Rusia.

Saturday, July 02, 2022

Serangan Rudal Tewaskan 21 Orang, Rusia: Kami Tak Serang Target Sipil!


Negaratoto - Kremlin atau kantor kepresidenan Rusia menegaskan pasukannya yang tengah melakukan operasi militer khusus di Ukraina selalu menghindari untuk mengenai fasilitas sipil dan tetap fokus sepenuhnya pada target-target militer juga lokasi pelatihan para tentara bayaran.

Penegasan ini disampaikan setelah Ukraina melaporkan serangan rudal Rusia menghantam gedung apartemen sembilan lantai dan pusat rekreasi di wilayah Odesa. Sedikitnya 21 orang termasuk anak-anak tewas akibat serangan rudal itu, dengan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.

"Saya ingin mengingatkan Anda sekali lagi bahwa Presiden dan panglima tertinggi Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa tentara Rusia selama operasi militer khusus tidak menyerang target sipil atau infrastruktur sipil," tegas juru bicara Kremlin Dmitry Peskov seperti dilansir kantor berita Rusia, TASS, Sabtu (2/7/2022).

"Tentara melancarkan serangan-serangan terhadap gudang-gudang militer, fasilitas industri di mana peralatan militer menjalani perawatan dan perbaikan, depot amunisi dan lokasi-lokasi di mana para tentara bayaran dan elemen nasional ditempatkan dan dilatih," jelas Peskov.

Lebih lanjut, Peskov menyarankan media untuk menghubungi Kementerian Pertahanan Rusia soal informasi lebih detail.


Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, menyebut serangan rudal Rusia mengenai gedung apartemen sembilan lantai yang ditinggali oleh warga sipil.

"Tiga rudal mengenai sebuah gedung apartemen sembilan lantai, di mana tidak ada seorangpun yang menyembunyikan senjata apapun, peralatan militer apapun. Orang-orang biasa, warga sipil, tinggal di sana," klaim Zelensky.

Zelensky menuduh Rusia terlibat dalam 'teror' negara terkait rentetan serangan rudal di kota pelabuhan Odesa itu. Dia menyebut serangan Rusia yang mengenai apartemen dan pusat rekreasi itu disengaja.

"Saya tekankan: Ini merupakan tindakan teror Rusia yang disengaja dan memiliki tujuan tertentu -- dan bukan semacam kesalahan atau serangan rudal yang tidak disengaja," tegas Zelensky dalam pernyataannya.

Sebelumnya, Rusia juga berdalih soal serangan rudal yang menghancurkan sebuah pusat perbelanjaan di Kremenchuk, Ukraina bagian tengah, hingga menewaskan sedikitnya 18-19 warga sipil.

Kementerian Pertahanan Rusia berdalih mengklaim serangan rudal itu ditargetkan terhadap sebuah gudang senjata yang menyimpan pasokan senjata dari Barat, yang terletak di sebelah pusat perbelanjaan dan ledakan amunisi akibat serangan itu telah memicu kebakaran pada pusat perbelanjaan.

Saturday, June 4, 2022

Saturday, June 04, 2022

100 Hari Invasi Ukraina, Rusia: Operasi Lanjut hingga Semua Tujuan Tercapai


Negaratoto - Kremlin atau kantor kepresidenan Rusia menilai hasil operasi militernya di Ukraina yang memasuki 100 hari pada Jumat (3/6) dengan mengklaim 'hasil tertentu' telah dicapai. Ditegaskan juga oleh Kremlin bahwa 'pekerjaan' di Ukraina akan terus berlanjut hingga semua tujuan tercapai.

Seperti dilansir AFP dan CNN, Sabtu (4/6/2022), Rusia menyebut aksinya di Ukraina yang dilancarkan sejak 24 Februari lalu sebagai 'operasi militer khusus'.

"Hasil tertentu telah dicapai," klaim juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan via conference call rutin pada Jumat (3/6) waktu setempat. Peskov menjawab pertanyaan wartawan soal operasi militer Rusia yang memasuki hari ke-100.

Otoritas Rusia sebelumnya menegaskan bahwa pengiriman pasukan ke Ukraina bertujuan membela dua wilayah separatis pro-Moskow, Donetsk dan Luhansk, dari pasukan militer Kiev.


"Dalam hal memastikan perlindungan mereka, langkah-langkah tengah diambil dan hasil tertentu telah dicapai," tegas Peskov dalam pernyataannya.

"Banyak permukiman yang telah dibebaskan dari Angkatan Bersenjata Ukraina yang pro-Nazi dan secara langsung dari elemen nasionalis," ujarnya.

Rusia telah berulang kali menggambarkan otoritas Ukraina sebagai neo-Nazi dan nasionalis -- julukan yang disebut oleh Kiev sebagai propaganda demi membenarkan invasi ke wilayahnya.

"Kesempatan telah diberikan kepada orang-orang untuk memulai kehidupan yang damai," sebut Peskov.

"Pekerjaan ini akan berlanjut hingga semua tujuan dari operasi militer telah tercapai," cetusnya.

Diketahui bahwa kehidupan banyak orang yang tak terhitung jumlahnya di Ukraina menjadi jungkir balik selama perang berlangsung, dengan ribuan orang dilaporkan tewas dan jutaan orang lainnya terpaksa mengungsi dari rumah masing-masing.