Breaking

Showing posts with label Kejahatan Perang. Show all posts
Showing posts with label Kejahatan Perang. Show all posts

Friday, July 15, 2022

Friday, July 15, 2022

45 Negara Janji Kerja Sama Selidiki Kejahatan Perang Rusia di Ukraina


Negaratoto - Amerika Serikat (AS) dan lebih dari 40 negara lainnya sepakat untuk mengkoordinasikan penyelidikan dugaan kejahatan perang di Ukraina. Kesepakatan itu dicapai setelah otoritas Ukraina melaporkan serangan rudal Rusia menewaskan puluhan warga sipil di sebuah kota yang jauh dari garis depan pertempuran.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (15/7/2022), Presiden Volodymyr Zelensky menuturkan kepada konferensi internasional bahwa rudal-rudal Rusia menghantam dua pusat masyarakat di wilayah Ukraina bagian barat, menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk tiga anak, dan melukai lebih banyak orang.

Rusia berulang kali membantah terlibat dalam kejahatan perang dan menyangkal telah secara sengaja menargetkan warga sipil dalam serangan-serangannya sejak menginvasi Ukraina pada akhir Februari lalu.

Diklaim oleh Rusia bahwa pihaknya melancarkan 'operasi militer khusus' untuk melindungi warga yang berbicara bahasa Rusia di Ukraina bagian timur dan membasmi nasionalis berbahaya. Ukraina menuduh Moskow melancarkan perang penaklukan yang tidak beralasan.

"Hari ini di pagi hari, rudal-rudal Rusia menghantam kota hakim, Vinnytsia, sebuah kota biasa yang damai. Rudal-rudal jelajah menghantam dua fasilitas masyarakat, rumah-rumah hancur, pusat medis hancur, mobil-mobil dan tram terbakar," sebut Zelensky saat berbicara via tautan video pada Kamis (14/7).

"Ini merupakan aksi teror Rusia," tegasnya.

Kementerian Pertahanan Rusia belum secara resmi mengomentari laporan soal serangan rudal di Vinnytsia.


Pada Kamis (14/7) waktu setempat, 45 negara yang menghadiri konferensi di Den Haag, Belanda -- markas besar Mahkamah Pidana Internasional (ICC) -- telah menandatangani deklarasi politik untuk bekerja bersama dalam penyelidikan kejahatan perang di Ukraina.

Negara-negara tersebut mencakup negara-negara Uni Eropa seperti Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, Meksiko dan Australia.

Mereka juga menjanjikan dana sebesar 20 juta Euro (Rp 301,4 miliar) untuk membantu ICC, juga kantor Jaksa Agung Ukriana dan upaya dukungan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Disebutkan bahwa dengan sekitar 23.000 penyelidikan kejahatan perang sekarang tengah berlangsung dan berbagai negara mengerahkan tim, bukti-bukti yang ada haruslah kredibel dan terorganisir.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Belanda Wopke Hoekstra menyatakan Belanda juga perlu mempertimbangkan pembentukan pengadilan internasional khusus kejahatan perang Ukraina, sebagian karena baik Ukraina maupun Rusia bukanlah anggota ICC.

"Kita harus mengisi kekosongan itu dan ICC di sini tidak memiliki yurisdiksi jadi saya bisa membayangkan kita akan membentuk pengadilan semacam itu ... Kita akan mempertimbangkan ini," ucapnya.

Rusia diketahui menarik diri dari ICC tahun 2016 setelah pengadilan internasional itu menyebut pencaplokan Semenanjung Crimea dari Ukraina tahun 2014 lalu sebagai konflik bersenjata.

Ketua ICC, jaksa Karim Khan, mengatakan ada alasan untuk berharap karena lebih dari 40 negara sekarang mengupayakan tindakan terkait Ukraina melalui pengadilan. ICC telah mengirimkan tim lapangan terbesar dalam 20 tahun sejarahnya, untuk melakukan penyelidikan ke Ukraina.

"Pada saat ini, hukum tidak bisa hanya menjadi penonton. Hukum tidak bisa bersandar dalam kenyamanan di Den Haag," tegasnya.

Tuesday, April 12, 2022

Tuesday, April 12, 2022

Polisi Prancis Tiba di Ukraina Bantu Selidiki Dugaan Kejahatan Perang Rusia

Negaratoto - Personel kepolisian dan dokter forensik Prancis telah tiba di Ukraina pada awal pekan ini untuk membantu penyelidikan dugaan kejahatan perang oleh Rusia. Penyelidikan tengah dilakukan Ukraina setelah ratusan mayat sipil ditemukan di kota-kota sekitar Kiev usai pasukan Rusia mundur dari area tersebut.

Seperti dilansir AFP, Selasa (12/4/2022), Menteri Dalam Negeri Prancis dan Menteri Kehakiman Prancis menyatakan pihaknya mengirimkan tim untuk 'mencegah impunitas dari tindakan yang merupakan kejahatan perang' menyusul pembunuhan massal di Ukraina yang mengejutkan dunia.

Para menteri Prancis itu menyebut para detektif yang dikirim akan 'memberikan dukungan konkret' kepada Ukraina dan yurisdiksi internasional untuk menyelidiki pembunuhan itu.

"Dalam kesepakatan dengan otoritas Ukraina, itu juga bisa berkontribusi pada penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional," sebut kedua Menteri Prancis itu.

Ditambahkan juga bahwa para pakar akan membantu dalam 'identifikasi dan pengumpulan bukti' di Ukraina.


Lebih lanjut, Kementerian Prancis menyatakan tim itu terdiri atas 'dua dokter forensik dan sekitar 15 gendarme dari Institut Riset Kriminal Gendarmerie Nasional (IRCGN), pakar-pakar dalam olah tempat kejadian perkara dan identifikasi korban'.

Petugas yang dikirim, sebut Kementerian Prancis, memiliki kepakaran dalam 'pengambilan sampel DNA dan memproses sidik jari' dan akan 'menyiapkan rantai pemeriksaan dan identifikasi mayat'. Mereka diperlengkapi dengan laboratorium DNA yang memungkinkan mereka melakukan 'analisis genetik cepat'.

Via Twitter, Duta Besar Prancis untuk Ukraina Etienne de Poncins memposting foto para petugas berseragam yang berdiri di sebelah van laboratorium mobile di kota Lviv.

"Bangga untuk menyambut ke Lviv detasemen gendarme (polisi) teknis dan ilmiah yang datang untuk membantu rekan-rekan mereka dalam penyelidikan kejahatan perang yang dilakukan di dekat Kiev," sebut De Poncins dalam pernyataannya.

"Prancis menjadi yang pertama memberikan bantuan semacam itu. Mereka akan mulai bekerja besok," imbuhnya.

Otoritas Ukraina sebelumnya mengumumkan temuan 1.222 mayat di area-area sekitar Kiev yang baru-baru ini ditinggalkan pasukan Rusia. Ukraina bersumpah untuk mencari dan mengidentifikasi pelaku di balik pembunuhan warga sipil dan menyerukan bantuan internasional dalam upaya itu.

Menanggapi pengiriman itu, Rusia menuduh tim Prancis berupaya mencoreng reputasi Moskow. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan tidak bisa 'mengandalkan penyelidikan yang tidak memihak' karena pakar-pakar Prancis bias.

Kementerian Pertahanan Rusia juga menuduh tujuan dari misi itu adalah 'menutupi banyak kejahatan perang' yang dilakukan oleh Ukraina dan 'merekayasa tuduhan terhadap pasukan Rusia'.

Presiden Volodymyr Zelensky telah membentuk mekanisme khusus untuk menyelidiki 'kejahatan' Rusia di Ukraina, yang melibatkan 'pakar nasional dan internasional'. Sementara pada Minggu (10/4), Jaksa Agung Ukraina Iryna Venediktova mengumumkan Kiev tengah menyelidiki 5.600 dugaan kejahatan perang yang melibatkan '500 tersanga' dari pemerintah dan militer Rusia.

Monday, April 11, 2022

Monday, April 11, 2022

Serangan Roket Rusia Hancurkan Bandara Di Kota Dnipro Ukraina

 

Dnipro Merupakan Kota Industri Yang Menampung Satu Juta Orang Penduduk, Kota Ini Memang Telah Menjadi Sasaran Pasukan Rusia Sejak Mereka Melancarkan Invasi.

NEGARATOTO - Serangan roket Rusia telah menghancurkan sebuah bandara di Ukraina, tepatnya di Kota Dnipro. Akibat serangan itu, sebanyak lima pekerja darurat mengalami luka-luka.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Valentyn Reznichenko, gubernur wilayah Dnipropetrovsk tengah. Ia menyebut bahwa serangan tersebut telah menghancurkan infrastruktur di sekitar bandara.

"Ada serangan lain di bandara Dnipro. Tidak ada yang tersisa dari itu," kata Reznichenko. "Bandara itu sendiri dan infrastruktur di sekitarnya telah hancur. Roket terus terbang dan terbang."

Sebuah bangunan di distrik kota Pavlohrad juga terkena serangan sebuah rudal. Pada Minggu, serangan di kota Dnipro, yang terletak di tepi Sungai Dnieper, mengalami peningkatan, sebagaimana yang dilaporkan oleh Reznichenko.

Dnipro merupakan kota industri yang menampung satu juta orang penduduk, Kota ini memang telah menjadi sasaran pasukan Rusia sejak mereka melancarkan invasi. Namun sejauh ini telah terhindar dari kehancuran besar.

Sementara itu, Mykola Lukashuk selaku kepala dewan wilayah Dnipro, mengatakan lima staf layanan darurat negara telah terluka akibat serangan di bandara. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan jika rudal yang ditembakkan telah menghancurkan pangkalan militer Ukraina di Zvonetsky yang baru-baru ini "menerima bala bantuan dari tentara bayaran asing".

Pada hari yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengatakan rencananya terkait kemungkinan untuk memberikan sanksi tambahan terhadap Rusia dalam panggilan telepon dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz. Zelenskyy telah menyerukan embargo impor gas dan minyak dari Rusia, tetapi Jerman sejauh ini menolak tekanan untuk menyatakan embargo.

Sebagaimana diketahui, minyak Rusia telah menyumbang 25 persen dari impor Jerman. Angka itu turun dari 35 persen sebelum invasi pada 24 Februari. Impor gas ke Jerman dari Rusia telah dipotong menjadi 40 persen dari 55 persen, dan impor batu bara keras menjadi 25 persen dari 50 persen.

Thursday, March 31, 2022

Thursday, March 31, 2022

 

Rusia Telah Sepakat Mengurangi Aktivitas Militer Di Ukraina Pada Selasa (29/3) Kemarin. Tapi Rusia Tampaknya Tak Menepati Janji Dan Masih Terus Aktif Melancarkan Serangan Ke Ukraina.

NEGARATOTO - Pasukan Rusia menyerang kota-kota di seluruh Ukraina, meningkatkan serangan setelah berjanji untuk mengurangi aktivitas militer selama pembicaraan damai baru. Pada Rabu (30/3), pejabat Ukraina mengatakan mereka telah melihat penembakan baru di utara Ukraina dan tidak ada tanda-tanda pengurangan permusuhan.

Meski begitu, sikap Rusia itu tampaknya sudah diduga oleh pihak Ukraina. Pejabat Ukraina mengatakan kelanjutan serangan Rusia itu tidak mengejutkan mereka.

Pasukan Rusia menyerang kota utara Chernihiv, kurang dari 100 mil jauhnya dari ibukota Kyiv. Pejabat kota juga mengungkap bahwa penduduk di sana tinggal tanpa listrik, air atau gas.

"Malam itu seperti yang kami harapkan, bahwa (semua yang dijanjikan Rusia) adalah kebohongan dari awal hingga akhir. Itulah sebabnya pada malam hari kami melakukan penembakan yang serius... dan Rusia berusaha menghancurkan semua sarana yang mungkin untuk menyeberangi Sungai Desna menuju Kyiv," kata Walikota Chernihiv, Vladyslav Atroshenko, melansir The Guardian.

Di wilayah barat Khmelnytsky, babak baru serangan menghantam fasilitas industri dan memicu kebakaran. Pejabat Ukraina mengatakan Moskow terus merebut fasilitas infrastruktur penting di bagian timur dan utara negara itu.

"Ada alarm udara di seluruh negeri pada malam hari. Faktanya, tidak ada daerah tanpa sirine. Di pagi hari, mereka diulang. Secara khusus, di Donbas... wilayah Kyiv," kata Vadym Denysenko, penasihat menteri dalam negeri Ukraina, melansir CNN.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Ukraina, Iryna Vereshchuk mengatakan bahwa bagian dari kesepakatan yang berasal dari pembicaraan damai hari Selasa kemarin termasuk koridor evakuasi yang akan dibuka pada hari Rabu. Vereshchuk mengatakan itu termasuk evakuasi penduduk Mariupol di Ukraina selatan dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Berdyansk.

Dia juga mengatakan rute baru dari Melitopol akan diizinkan. Bersama dengan satu untuk kendaraan pribadi yang digunakan untuk penduduk yang bepergian dari Enerhodar ke Zaporizhzhia.

PBB juga merilis angka pengungsi baru pada hari Rabu. Mengatakan bahwa lebih dari 4 juta orang Ukraina telah meninggalkan negara asal mereka sejak invasi dimulai 24 Februari.

"Hak untuk bergerak bebas di dalam wilayah Schengen berarti hanya ada sedikit kontrol perbatasan di dalam Uni Eropa," kata badan pengungsi PBB dalam sebuah pernyataan.

"Data kedatangan di negara-negara Schengen (Hongaria, Polandia, Slovakia) yang berbatasan dengan Ukraina oleh karena itu hanya mewakili penyeberangan perbatasan ke negara itu, tetapi kami memperkirakan bahwa sejumlah besar orang telah pindah ke negara lain," pungkasnya.

Monday, March 28, 2022

Monday, March 28, 2022

Hampir Rata dengan Tanah, Tak Ada yang Tertinggal di Kota Mariupol Ukraina

 

NEGARATOTOButuh dua hari bagi saudara kembar Hanna dan Anastasiya Hrechkina mencari tumpangan untuk ke luar dari Mariupol saat kota itu terus dibombardir pasukan Rusia.

"Saya kehilangan harapan karena orang-orang tidak mau berhenti," kata Anastasiya (22), mahasiswa psikologi, dikutip dari Reuters, Jumat (25/3).

Bersama ibu dan bibi mereka, seorang sepupu dan teman, saudara kembar itu mengatakan mereka memutuskan meninggalkan Mariupol setelah dua pekan lebih dikepung pasukan Rusia.

Anastasiya menuturkan, pada hari pertama mereka berusaha melarikan diri, pertempuran sangat intens di mana setiap lima sampai 10 menit mereka harus meninggalkan barang-barang mereka di pinggir jalan dan lari untuk menyelamatkan diri.

Akhirnya, mereka menyerah dan kembali ke rumah.

Lalu pada hari kedua, seorang pria yang melarikan diri bersama keluarganya menggunakan empat kendaraan setuju untuk memberi tumpangan pada saudara kembar itu dan keluarganya.

Walaupun hanya ada kursi tambahan untuk empat penumpang, enam orang itu rela berdesakan di kendaraan yang disebut Hanna "momen paling membahagiakan hari itu."

Mariupol, kota yang populasinya berjumlah 400.000 orang, hampir rata dengan tanah karena gempuran Rusia yang bertujuan untuk menghancurkan kelompok perlawanan di kota itu.

Ratusan ribu orang bersembunyi di ruang bawah tanah tanpa air mengalir, makanan, obat-obatan maupun listrik, tidak bisa keluar dari tempat tersebut. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy mengatakan "tak ada yang tertinggal" di kota itu.

Kementerian Pertahanan Rusia menyalahkan "nasionalis Ukraina" atas apa yang disebut "bencana kemanusiaan" di Mariupol.

Rusia menyebut tindakannya di Ukraina sebagai "operasi khusus" untuk menghancurkan kemampuan militer negara tetangganya itu dan menangkap apa yang disebutnya nasionalis berbahaya. Rusia membantah menargetkan warga sipil.

Saudara kembar Hrechkina dan keluarganya mencoba bertahan pada pekan pertama pengepungan, walaupun ketika kondisi semakin memburuk dan pertempuran semakin mendekat.

Saya tidak ingin mati di jalan

Anastasiya mengatakan mereka kekurangan makanan, hanya memakan dua kali dalam sehari. Tanpa persediaan gas, mereka mengatakan para penduduk membuat api di luar rumah untuk memanaskan makanan mereka, beberapa merusak bangku atau menebang pohon.

Dengan jaringan seluler yang terputus dan tidak ada listrik untuk mengisi daya ponsel, saudara kembar itu terputus dari dunia luar.

"Kami pikir mungkin kalau tidak ada yang datang menolong kami, mungkin dunia tidak tahu tentang situasinya," kata Anastasiya.

Ketika gempuran semakin intensif mereka tidak bisa lagi mengambil air dari sumur terdekat, mereka tahu itulah saatnya mereka harus pergi.

Ketika empat kendaraan itu mereka temukan di jalan, dua bersaudara itu tak bertanya lagi kemana tujuan mereka.

"Saya tidak tahu kemana kami pergi, saya tidak tahu butuh waktu berapa lama tapi saya bahagia saya ada di dalam mobil, kami semua bersama keluarga kami," kata Hanna.

Tapi kemudian mereka mengetahui tidak semua mobil menuju destinasi yang sama, takut mereka dipisahkan dengan ibu mereka.

Mobil itu membawa mereka ke Berdiansk, dari sana mereka naik bus yang disiapkan Palang Merah Ukraina yang akan membawa mereka ke Zaporizhzhia, di mana mereka berharap berkumpul kembali dengan ibu mereka.

Namun, gempuran sengit memaksa bus itu berhenti sekitar 50 kilometer dari kota itu.

"Saya diserang panik di sana, saya pikir setelah kami melarikan diri dari Mariupol, saya tidak ingin mati di jalan," kata Anastasiya.

Akhirnya mereka bertemu dengan ibu mereka. Dari Zaporizhzhia, kerabatnya membawa dua bersaudara itu ke Kryvyi Rih, 400 kilometer barat laut Mariupol.

"Saya ingin di Ukraina dan saya ingin kembali ke Ukraina, tapi saat ini saya merasa perlu ada di tempat yang lebih aman daripada apa yang ada di Ukraina sekarang," kata Hanna.

"Selalu ada ancaman untuk dikepung lagi. Saya tidak ingin melalui itu," pungkas Anastasiya.


Thursday, March 3, 2022

Thursday, March 03, 2022

Mahkamah Internasional Mulai Penyelidikan Kejahatan Perang di Ukraina

Negaratoto - Kepala jaksa Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC) mengatakan penyelidikan aktif terhadap kemungkinan kejahatan perang di Ukraina "akan segera dilanjutkan". Hal ini disampaikan setelah kantornya menerima dukungan dari 39 negara.

Negara-negara tersebut mencakup semua negara anggota Uni Eropa, serta Australia, Inggris, Kanada, Selandia Baru, Swiss, dan beberapa negara Amerika Latin.

"Saya telah memberi tahu Kepresidenan ICC beberapa saat yang lalu tentang keputusan saya untuk segera melanjutkan penyelidikan aktif dalam situasi di Ukraina," tulis Karim Khan dalam sebuah pernyataan seperti diberitakan kantor berita AFP, Kamis (3/3/2022).

"Pekerjaan kami dalam pengumpulan bukti sekarang telah dimulai," imbuhnya.

Sebelumnya pada Senin (28/2) lalu, Khan mengumumkan bahwa dia membuka penyelidikan atas dugaan kejahatan perang yang dilakukan setelah invasi Rusia ke Ukraina pekan lalu.

Khan mengatakan dia yakin ada "dasar yang masuk akal" untuk percaya bahwa kejahatan dalam yurisdiksi pengadilan telah dilakukan.

Tapi dia membutuhkan persetujuan hakim-hakim mahkamah yang berbasis di Den Haag, Belanda itu sebelum melanjutkan penyelidikannya. Namun, rujukan negara-negara ICC sekarang berarti bahwa penyelidikan Khan dapat dilanjutkan tanpa persetujuan hakim, sehingga mempercepat prosesnya.

"Rujukan ini memungkinkan kantor saya untuk melanjutkan penyelidikan terhadap situasi di Ukraina mulai 21 November 2013 dan seterusnya," kata Khan.

Itu akan mencakup "setiap tuduhan kejahatan perang di masa lalu dan sekarang, kejahatan terhadap kemanusiaan atau genosida yang dilakukan di bagian mana pun di wilayah Ukraina oleh siapa pun," ujar Khan.

Khan mengatakan penyelidikannya akan dilakukan "objektif dan independen" dan fokus pada "memastikan akuntabilitas atas kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi ICC".

ICC yang berbasis di Den Haag didirikan pada tahun 2002 sebagai pengadilan independen untuk mengadili individu yang dituduh melakukan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Namun, ICC hanya dapat menuntut kejahatan yang dilakukan di wilayah 123 negara anggotanya. Ukraina bukan anggota ICC, tetapi pada tahun 2014 menerima yurisdiksi mahkamah internasional tersebut.

Adapun Rusia telah menarik diri dari ICC, sehingga pengadilan hanya akan dapat menjangkau orang-orang Rusia jika mereka ditangkap di wilayah negara yang menghormati yurisdiksi ICC.