Negaratoto - Rusia kehilangan 79 pesawat jet komersial, atau hampir 10% dari total maskapai penerbangan mereka. Hal itu terjadi akibat sanksi yang diberikan dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa, atas invasinya ke Ukraina.
Sanksi dari sejumlah negara itu, mengharuskan perusahaan penyewaan pesawat internasional untuk mengambil alih armada Rusia pada akhir Maret 2022 lalu.
Dikutip dari CNN, Minggu (10/4/2022), menurut data laporan analitik Cirium, ketika Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari, maskapai penerbangan Rusia mengoperasikan 861 pesawat komersial, baik jet penumpang maupun kargo. Lebih dari setengah dari pesawat itu, diperkirakan memiliki nilai pasar US$ 9,2 miliar atau setara Rp 13,.5 triliun (kurs Rp 14.300).
Industri penerbangan Rusia bergantung pada pesawat yang dibuat oleh perusahaan leasing AS dan negara Barat, seperti Boeing dan Airbus. Namun, AS dan sebagian besar Eropa telah menutup ruang udara ke Rusia setelah invasinya.
Pemerintah Rusia (Kremlin) mengumumkan bulan lalu, mereka menasionalisasi semua pesawat yang berusaha diambil alih oleh leasing, dan mengambil alih hampir 500 pesawat yang ada di Rusia.
Sebagian besar perusahaan leasing besar, termasuk Air Lease Corp. (AL), Aviation Capital Group, Avolon dan SMBC Aviation Capital, menolak berkomentar mengenai pesawat yang telah mereka sita atau tindakan Rusia untuk menasionalisasi pesawat yang masih ada di Rusia.
Bahkan beberapa perusahaan leasing di negara-negara yang belum memberikan sanksi ke Rusia, seperti China dan Uni Emirat Arab, juga bergerak untuk mengambil alih pesawat mereka dari Rusia.
Sanksi itu juga mengharuskan Boeing, Airbus, dan pembuat mesin seperti General Electric (GE) berhenti menyediakan suku cadang dan dukungan layanan ke Rusia.
No comments:
Post a Comment