Breaking

Showing posts with label Flu Burung. Show all posts
Showing posts with label Flu Burung. Show all posts

Tuesday, February 14, 2023

Tuesday, February 14, 2023

Pakar Minta Masyarakat Waspada Flu Burung H5N1

 

NEGARATOTO Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama meminta masyarakat untuk mewaspadai flu burung H5N1. Permintaan ini menyusul peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai wabah flu burung.

"Walaupun saat ini WHO masih berpendapat bahwa risiko penularan flu burung ke manusia masihlah rendah tetapi tentu kita harus tetap waspada," ujar Tjandra melalui keterangan tertulis, Selasa (14/2).

Menurut dia, setidaknya ada tiga alasan untuk mewaspadai wabah flu burung. Pertama, sudah ada prediksi setelah Covid-19 akan terjadi pandemi berikutnya. Hanya saja, belum diketahui pasti kapan akan terjadi dan penyakit apa yang jadi pemicunya.

Kedua, diperkirakan ada tiga jenis penyakit yang akan jadi penyebab pandemi berikutnya. Rinciannya, zoonosis (penyakit yang bersumber dari binatang), berbagai jenis influenza, dan penyakit X.

"Flu burung H5N1 memang berasal dari binatang atau unggas dan memang adalah jenis influenza," jelas dia.

Ketiga, flu burung kini mulai menyerang bukan saja unggas tetapi juga binatang menyusui. Bahkan, flu burung sudah mengalami mutasi.

"Kalau mutasi terus berkelanjutan maka tentu mungkin saja menular ke manusia, yang tentu sangat tidak kita harapkan," imbuh dia.

Flu Burung Bisa jadi Pandemi

Tjandra mengatakan, bila flu burung menular ke manusia, maka kemungkinan ada empat hal yang terjadi. Di antaranya, terjadi kasus sporadik atau klaster kecil flu burung di masyarakat.

Kemudian, penularan flu burung yang terjadi di masyarakat berkelanjutan (sustained human to human tnasmission) sehinga memicu wabah pada komunitas lokal (community-level outbreaks).

Bila keadaan terus tidak terkendali dan penyakit flu burung menular luas ke dua regional WHO, maka dapat saja dideklarasikan sebagai keadaan 'Public Health Emergency of International Concern-PHEIC' sesuai aturan dalam International Health Regulation (IHR).

"Kalau tidak terkendali akan dapat saja menjadi pandemi," kata Tjandra.

Cara Mencegah Flu Burung

Menurut Tjandra, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mencegah flu burung. Misalnya, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian berkoordinasi untuk mengantisipasi flu burung H5N1.

Sementara masyarakat, sebaiknya tidak menyentuh hewan yang sakit atau mati karena sebab tidak jelas. Bila menemukan hewan mati tanpa sebab, segera melaporkan ke otoritas kesehatan hewan dan puskemas setempat.

Selain itu, perlu dilakukan surveilan pada unggas dan juga hewan mamalia untuk mendeteksi apakah sudah ada infeksi flu burung H5N1. Bila ditemukan hewan yang dicurigai terinfeksi flu burung, maka harus segera ditangani petugas kesehatan.

Petugas kesehatan harus segera menganalisis kasus secara mendalam, menguburkan hewan mati agar tidak terjadi penularan selanjutnya. Kemudian, mendeteksi apakah sudah terjadi penularan kepada manusia dilanjutkan dengan penyelidikan epidemiologik (PE).

"Diperketat kegiatan surveilan pada peternak dan masyarakat yang banyak kontak dengan unggas seperti penjual ayam di pasar dan lain-lain karena merekalah yang punya risiko tinggi tertular, kalau kasus sudah ada pada hewan," ujar Tjandra.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini menilai, pemeriksaan whole genome sequencing juga perlu digalakkan pada binatang. Di samping itu, kerja sama dengan organisasi internasional, baik WHO maupun World Organization for Animal Health (WOAH) untuk kesehatan hewan harus diperkuat.

"Kesemua kegiatan kewaspadaan di atas adalah salah satu bentuk nyata pendekatan One Health, kesehatan satu bersama, di mana untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat memang diperlukan kerja bersama sektor kesehatan, kesehatan hewan dan bahkan juga kesehatan lingkungan," tutup Tjandra.

Wednesday, April 27, 2022

Wednesday, April 27, 2022

Balita China Terinfeksi Flu Burung H3N8, Kasus Pertama pada Manusia


Negaratoto - Otoritas China mengonfirmasi kasus pertama flu burung H3N8 pada manusia yang diketahui secara jelas. Seorang balita berusia empat tahun dinyatakan terinfeksi H3N8 setelah dirawat di rumah sakit sejak awal bulan ini.

Namun otoritas kesehatan China menyatakan bahwa risikonya rendah untuk terjadi penularan secara luas di antara manusia. Demikian seperti dilansir AFP, Rabu (27/3/2022).

H3N8 diketahui menyebar sejak tahun 2002 setelah pertama muncul pada unggas air di Amerika Utara. Flu burung jenis ini diketahui menginfeksi kuda, anjing dan anjing laut, namun belum pernah terdeteksi pada manusia sebelumnya.

Komisi Kesehatan Nasional China, pada Selasa (26/4) waktu setempat, melaporkan bahwa seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang tinggal di Provinsi Henan bagian tengah dinyatakan positif flu burung H3N8 setelah menjalani perawatan di rumah sakit sejak awal bulan ini, dengan demam dan gejala lainnya.


Keluarga bocah itu, sebut Komisi Kesehatan Nasional China, memelihara ayam di rumah mereka dan tinggal di area yang dihuni bebek-bebek liar.

Menurut Komisi Kesehatan Nasional China, bocah itu terinfeksi secara langsung dari unggas dan jenis H3N8 didapati tidak memiliki 'kemampuan untuk menginfeksi manusia secara efektif'.

Disebutkan juga bahwa hasil tes terhadap kontak erat dari bocah itu tidak ditemukan adanya ketidakwajaran.

Dalam pernyataannya, Komisi Kesehatan Nasional China menegaskan bahwa kasus bocah ini merupakan 'transmisi lintas spesies dalam sekali kejadian, dan risiko transmisi skala besar tergolong rendah'.

Namun diperingatkan juga kepada masyarakat untuk menjauhi unggas yang mati atau sakit, dan segera mencari pengobatan medis jika menderita demam atau gangguan pernapasan.

Flu burung diketahui banyak terjadi pada burung dan unggas liar. Kasus penularan antara manusia sangatlah langka.

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), flu burung jenis H5N1 dan H7N9, yang masing-masing terdeteksi tahun 1997 dan 2013 lalu, bertanggung jawab atas sebagian besar kasus flu burung pada manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa penularan pada manusia untuk zoonosis -- penyakit binatang yang bida ditularkan ke manusia -- 'umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan binatang yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi, namun tidak memicu transmisi efisien dari virus-virus ini di antara manusia'.