Breaking

Showing posts with label Pangeran. Show all posts
Showing posts with label Pangeran. Show all posts

Sunday, September 18, 2022

Sunday, September 18, 2022

Pangeran Harry Dan Istri Dilarang Hadiri Resepsi Kenegaraan Di Istana Buckingham?

 

Pangeran Harry Dan Meghan Markel 'Tak Diundang' Dalam Resepsi Kenegaraan Untuk Para Pemimpin Dunia Dan Bangsawan Asing Yang Akan Menghadiri Pemakaman Ratu. Resepsi Kenegaraan Itu Akan Digelar Di Istana Buckingham.

Negaratoto- Para pemimpin dunia dan bangsawan asing yang akan menghadiri pemakaman Ratu Elizabeth II Senin (19/9) mendatang dijadwalkan untuk mengikuti resepsi kenegaraan pada Minggu (18/9) malam, yang diselenggarakan oleh Raja Charles dan Permaisuri. Namun Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markel selaku Duke dan Duchess of Sussex dilarang untuk menghadiri acara tersebut meski diperkirakan telah menerima undangan.

Diperkirakan Duke dan Duchess of Sussex menerima undangan ke acara tersebut awal pekan ini. Namun Pangeran Harry dan Meghan sekarang tidak mungkin hadir setelah pejabat di Istana Buckingham bersikeras bahwa resepsi itu hanya untuk bangsawan yang bekerja.

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau termasuk di antara kepala negara yang akan tiba di London akhir pekan ini untuk menghadiri pemakaman Ratu Elizabeth II pada Senin (19/9).

Para pemimpin dunia, duta besar dan bangsawan asing akan menghadiri resepsi di Istana di mana mereka juga akan disambut oleh Prince and Princess of Wales, Princess Royal serta Earl dan Countess of Wessex.

Kebingungan atas undangan kepada Pangeran Harry dan Meghan menunjukkan masalah dengan komunikasi antara pasangan yang berbasis di California dan Keluarga Kerajaan, menurut Daily Telegraph. Ini mengikuti jelas U-turn atas hak Harry untuk mengenakan seragam militer meskipun dia adalah bangsawan yang tidak bekerja. Istana dipahami telah campur tangan untuk mengizinkan Harry mengenakan tanda kebesarannya untuk berjaga selama 15 menit di Westminster Hall hari ini.

Pangeran Harry dan Meghan Markle sebelumnya juga dikatakan berang setelah terungkap bahwa anak-anak mereka tidak akan diberikan status HRH ketika mereka diangkat oleh pangeran dan putri oleh Raja Charles III. Selain itu, masih ada masalah lama antara Pangeran Harry dan keluarganya, aotobiografinya yang disebut sebagai 'bom waktu yang ingin disebarkan oleh Charles dan William'. Di mana dikatakan bahwa itu akan diterbitkan sesuai rencana pada bulan November meskipun kematian Ratu.

Tom Bower, yang biografi Meghan Markle-nya dirilis awal tahun ini, mengatakan buku itu akan dicetak di Clays di Bungay, Suffolk, dalam kondisi sangat rahasia, dengan staf sedang diperiksa untuk salinannya.

Dia menambahkan: 'Buku itu adalah bom waktu yang ingin dijinakkan Charles dan William. Harry tidak berpikir bahwa dia akan berada di Inggris ketika Ratu meninggal dan keadaannya berbeda dengan apa yang mereka semua bayangkan.

Sunday, July 17, 2022

Sunday, July 17, 2022

Biden-MbS Buka-bukaan Kasus Kriminal, dari Khashoggi sampai Abu Akleh


Negaratoto - Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) buka-bukaan soal kasus kriminal dalam pertemuan keduanya, Jumat (15/7).

Biden mengonfrontasi MbS soal kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018 dalam pertemuan bilateral. Khashoggi merupakan jurnalis The Washington Post yang kerap mengkritik pemimpin Saudi, termasuk MbS.

Khashoggi diketahui sempat mengunjungi konsulat Saudi di Istanbul pada 2018 untuk memberikan dokumen terkait pernikahannya, tetapi ia dibunuh.

"Dengan mengingat kematian Khashoggi, saya membahas [pembunuhan] itu dalam awal pertemuan, memperjelas apa yang saya pikirkan tentang itu saat insiden terjadi, pun yang saya pikirkan saat ini," kata Biden, dikutip dari CNN.

"Saya membicarakan isu tersebut dengan jujur dan langsung. Saya mengutarakan pandangan saya dengan sangat jelas," tuturnya lagi.

Merespons pembahasan Khashoggi, MbS membantah dirinya bertanggung jawab atas kematian jurnalis itu.

"Putra Mahkota merespons pernyataan Presiden Biden terkait Khashoggi dengan jelas, bahwa kejahatan ini, meskipun sangat disayangkan dan menjijikan, merupakan sesuatu yang dianggap sangat serius oleh kerajaan, pun diperlakukan dengan rasa simpati sesuai posisi [Saudi] sebagai negara yang bertanggung jawab," kata Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan.

"Ini merupakan isu, kesalahan yang bisa terjadi di negara manapun, termasuk AS. Putra Mahkota juga menyebut AS melakukan sejumlah kesalahan dan telah menerapkan aksi yang sesuai untuk membuat orang yang bertanggung jawab dihukum, pun menindaklanjuti kesalahan tersebut seperti yang dilakukan kerajaan," tuturnya.


MbS kemudian membalas Biden dengan mengangkat kasus pelecehan seksual dan fisik tahanan di penjara Abu Ghraib Irak oleh personel militer AS, pun pembunuhan jurnalis Palestina-Amerika Shireen Abu Akleh di Tepi Barat.

Menurut MbS, kedua insiden tersebut berdampak buruk bagi Amerika Serikat, kata Farhan lagi.

Sebagaimana dilansir CNN, penjara Abu Ghraib merupakan pusat penahanan militer AS bagi warga Irak yang ditangkap sejak awal invasi AS di negara itu pada 2003. Penjara itu ditutup pada 2006.

Namun pada 2004, segudang gambar grafis dari penjara bocor, menunjukkan berbagai penyiksaan dan kekerasan seksual yang menimpa tahanan Irak oleh personel militer AS. Sebanyak sebelas personel AS dihukum atas kejahatan tersebut.

Sementara itu, jurnalis Al Jazeera Abu Akleh ditembak mati dalam serangan militer Israel di Kota Jenin, Tepi Barat.

Abu Akleh merupakan jurnalis yang terkenal di dunia Arab. Ia menghabiskan beberapa dekade untuk melaporkan kesulitan warga Palestina di bawah penjajahan Israel.

Dalam cuplikan video yang didapatkan CNN, pun pengakuan dari delapan saksi mata, analis audio forensik, dan ahli senjata peledak, menunjukkan bahwa Abu Akleh ditembak mati dalam serangan yang ditargetkan oleh pasukan Israel. Abu Akleh sendiri mengenakan helm dan rompi pelindung diri bertuliskan "Press."

Biden sendiri mengaku AS telah mengimbau "pertanggungjawaban penuh dan transparan" atas pembunuhan Abu Akleh.

Namun, beberapa pejabat Palestina dan anggota keluarga Abu Akleh mengkritik penyelidikan AS atas kasus ini, pun mendesak AS melakukan lebih banyak hal untuk membuat Israel bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Di sisi lain, AS merupakan salah satu sekutu Israel.

Kunjungan Biden ke Jeddah sendiri dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang kini berlangsung di AS, yakni lonjakan harga gas dan minyak. Diplomasi dengan Saudi dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan harga barang tersebut.