Breaking

Tuesday, May 31, 2022

Presiden Turki Erdogan Masih Bersikeras Tolak Finlandia Dan Swedia Untuk Gabung Ke NATO

 

Sebelumnya, Finlandia Dan Swedia Mengajukan Permohonan Untuk Bergabung Dengan NATO. Akan Tetapi Tampaknya Hal Ini Menemui Kendala, Di Mana Presiden Turki Tidak Menyetujuinya.

NEGARATOTO - Dua negara Eropa yakni Finlandia dan Swedia sebelumnya diketahui mengajukan permohonan untuk keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Hal ini lantas sukses menyita perhatian dunia.

Namun niat dari dua negara Eropa itu untuk bergabung dengan NATO tampaknya menemui hambatan. Adapaun hambatan tersebut datang dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, di mana hingga saat ini masih bersikeras menolak Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO.

Bahkan Erdogan mengatakan kepada wartawan bahwa ia masih berniat untuk memblokir aksesi Finlandia dan Swedia ke NATO. Ia pun mengungkapkan bahwa pertemuan minggu ini dengan delegasi Finlandia dan Swedia belum "pada tingkat yang diharapkan," mencatat tidak ada langkah yang diambil untuk mengurangi masalah keamanan Turki.

"Selama Tayyip Erdogan adalah pemimpin Republik Turki, kami tidak bisa mengatakan 'ya' kepada negara-negara yang mendukung teror bergabung dengan NATO," tegas Erdogan kepada wartawan di pesawatnya setelah kunjungan ke Azerbaijan pada Sabtu (28/5), menurut surat kabar harian Hurriyet.

Tidak hanya itu, Erdogan merujuk pada wawancara di televisi pemerintah Swedia dengan Salih Muslim yang merupakan seorang anggota pemerintahan Kurdi Suriah di timur laut Suriah, pada malam pertemuan delegasi. Ia mengutipnya sebagai bukti dukungan Swedia untuk militan Kurdi Suriah yang dilihat Turki sebagai perpanjangan dari kelompok Kurdi terlarang yang telah memimpin pemberontakan melawan Turki sejak 1984.

"Mereka tidak jujur atau tulus," beber Erdogan seraya bersumpah untuk tidak membiarkan negara-negara yang "menusuk teroris ke dada mereka, memberi makan teroris di pangkuan mereka." Selain itu, ia juga menuding bahwa Jerman, Prancis, dan Belanda melakukan "kesalahan" yang sama dalam mendukung teror.

Di sisi lain, Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah, atau YPG, disebut membentuk tulang punggung pasukan pimpinan AS dalam perang melawan kelompok Negara Islam. Sebagaimana diketahui, Turki telah memerangi Partai Pekerja Kurdistan, atau PKK, sejak 1984 di Turki dan Irak utara, di mana ia telah meningkatkan operasinya.

No comments:

Post a Comment